Ia terperanjat. Mukanya memerah menahan malu. Dihapusnya senyum yang sejak tadi ia pelihara. Ia pun bangkit, meraih tasnya pada sebuah bangku, lalu pergi.
“Saat aku melihatmu lagi, aku percaya itu ilusi. Pergilah, dan lupakan bahwa kau pernah memohon padaku. Pergilah. Bertahanlah di Makassar seakan kau mendapatkan cinta yang melimpah di sana!”
Ruldarwis mendengus. Harapannya punah. Kesetiaannya luntur. Dan wanita itu pun pergi.
Baca juga: Ke Mana Perginya Kucing-Kucing – Cerpen Erwin Setia (Haluan, 25-26 Agustus 2018)
Tak dinyana, api asmara yang membara, terbakar juga. Bersama seluruh kenangan yang tersimpan di dalamnya. Ruldarwis seperti melihat api itu membakar seluruh dirinya, juga panggung itu. Di dalam kenangan itu, bangku-bangku seperti ikut terbakar. Seolah ilusi semata. Oh hanya Tuhan yang tahu betapa ia masih mencintai perempuan itu.
***
Ia masih ingat bagaimana Maria Ariza, wanita yang dicintainya itu, bersimpuh di hadapannya untuk meminta belas kasih yang tulus. Sebagai seorang lelaki, permintaan itu harus ia putuskan sendiri. Tidak ada kemuliaan yang besar selain menerimanya dengan penuh rasa iba.
Mulanya begitu, tetapi kemudian ia terus memikirkan wanita itu. “Apakah kau suka musik?”
“Selama kau memainkannya, Sayang.”
Baca juga: Pete Si Kerdil – Cerpen Carol Moore (Haluan, 07 Oktober 2018)
Mulanya ia percaya, bahwa belas kasih yang terus dipelihara akan membuatnya jatuh ke dalam sebuah pernikahan. Kemudian, di dalam pernikahan itu, musik menjadi bagian yang tak terpisahkan. Maria Ariza selalu menemaninya kemana pun ia pergi. Tidak itu saja, Maria Ariza juga memberikan saran yang baik bagi setiap lirik lagu yang diciptakannya. Maka, lambat laun rasa belas kasihan itu pun sirna.
“Aku tidak memiliki alasan yang tepat untuk menolakmu, Maria Ariza.”
Dan kini, ia memiliki banyak alasan yang tepat untuk menolak wanita itu. Saat Maria Ariza memutuskan untuk pergi, maka tidak hanya cintanya, bahkan segala yang pernah datang bersama Maria Ariza, menjadi kutukan yang membuatnya menjadi gila.
***