Sehelai Kerudung

‘Itu harganya mahal,’ tukasnya lagi.

‘Pak Adnan kan cukup minta ganti rugi pada keluarga Arif kalau merasa dirugikan. Pak Adnan tak harus seperti orang-orang yang tak terima kain bertuliskan syahadat itu ketika dibakar.’

Adnan terdiam. Perkataan Kiai Saman bisa dipahami. Kerudung jimat bertuliskan kaligrafi dan dilingkari syahadat itu tak harus mengundang resah karena kebencian Adnan pada Arif. Persoalan syahadat atau keyakinan cukup diamalkan lalu diajarkan, tak perlu dikibarkan. Ada orang yang mengaku beragama tapi hanya omongannya saja. Seperti agama katepe.

Baca juga: Langit Malam Zainah – Cerpen Irfan M Nugraha (Kedaulatan Rakyat, 04 November 2018)

‘Pak Adnan kan sudah lihat dan dengar soal bendera yang dibakar itu kan?’

‘Iya Kiai.’

‘Nah, Pak Adnan tak harus seperti mereka. Demi menghajar Arif, sampai beralibi kerudung yang dipajang itu bertuliskan kaligrafi syahadat.’

Sejak peristiwa yang dilihat di televisi dan internet soal pembakaran bendera itu memang membuat masyarakat resah. Ada sebagian orang yang beragama hanya mengandalkan otak, bukan hati yang menjadi substansi keimanan. Padahal seharusnya dalam beragama tak perlu muluk-muluk, cukup hati ke hati, cukup diamalkan lalu diajarkan.

Baca juga: Kiai Maimun – Cerpen Asmadji As Muchtar (Kedaulatan Rakyat, 28 Oktober 2018)

Persoalan merasa dilecehkan, itu yang harus kita hadapi dengan lapang. Begitu ajaran agama: tabah dan sabar. Penjelasan Kiai Saman cukup masuk akal. Sebagian orang bilang membela tauhid. Tapi meresahkan masyarakat dan menjadi kontroversi. Kata Kiai Saman, tauhid cukup diamalkan lalu diajarkan, jangan hanya dikibarkan dibawa ke mana-mana. Apalagi sebagai jimat penolak jin dan setan. Sekarang banyak masyarakat belajar agama dari internet, sehingga cara beragamanya kaku dan tak ramah. Adnan mengangguk.  ❑-e

 

Junaidi Khab, cerpenis asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris UIN Sunan Ampel Surabaya.

Arsip Cerpen di Indonesia