Kemeja Batik

Baca juga: Menebang Pohon Tuhan – Cerpen Daruz Armedian (Kedaulatan Rakyat, 18 November 2018)

“Ada apa?” lelaki itu kembali bertanya sambil memerhatikan hamparan kain.

“Lihat! Jika posisi burung menyamping seperti ini, namun akan tetap dipertahankan di tengah punggung kemeja, bagian lengan harus dikorbankan. Kalau tidak mau dibuat lengan pendek, paling tidak ada sambungan vertikal di depan atau belakang. Risikonya, motif kotak-kotak peta akan pecah!”

“Buat lengan pendek saja!”

“Ini kemeja calon DPR yang akan dipakai berfoto. DPR Gerbang Salam masa lengan pendek?” suaranya sedikit meninggi.

Baca  juga: Sehelai Kerudung – Cerpen Junaidi Khab (Kedaulatan Rakyat, 11 November 2018)

“Ini kemeja calon DPR?”

“Iya! Milik Pak Fulan yang berjanji akan memerhatikan nasib perempuan berketerampilan jika menang.”

“Kalau begitu tak usah bingung. Sebagai orang politik, beliau akan mengerti, bahwa demi keseimbangan kadang harus ada yang dikorbankan!” suaminya menunjukkan berita dalam koran yang baru saja dibaca di tempat mangkal.

 

Madura, 2018

Muna Masyari, cerpenis tinggal di Pamekasan Madura.

Arsip Cerpen di Indonesia