Wanita Buta Peracik Jamu

Bahan dasar jamu Emak adalah daun, akar atau kayu. Emak sendiri yang megambilnya ke hutan. Biasanya ia mengambil bahan-bahan itu sesudah subuh. Yang pasti, Emak akan selalu menolak jika aku menawarkan diri untuk mengantarnya.

Ia akan berjalan tertatih dengan tongkat kayunya yang senantiasa ia ketukkan ke datar jalan. Sebenarnya sangat tak pantas, Emak ke hutan sendirian saat usianya sudah uzur dan dalam keadaan mata yang tak bisa melihat. Jika mau, mestinya ia menyuruhku untuk mengambil bahan-bahan di hutan. Tapi demikianlah Emak, tak ada yang bisa merintangi kehendaknya, mungkin saja ia punya rahasia atau kekuatan lain yang belum saatnya kuketahui. Entah apa itu.

Selain membantu di rumah, aku oleh Emak ditugas membagi-bagikan uang kepada para duafa dan yatim piatu setiap tiga hari sekali. Sebelum aku berangkat, biasanya Emak akan berpesan agar aku tidak mengurangi uang itu meski hanya selembar. Aku pun mengangguk dan berjalan keliling kampung, sambil membagi-bagikan uang itu. Aku sangat bahagia bisa bersama dengan duafa dan anak yatim, bercakap dan foto-foto, walaupun di sisi lain, aku sangat menyayangkan tindakan emak ini, padahal jumlah uang yang dibagi-bagikan itu sangatlah cukup untuk membangun rumah.

Aku heran, Emak lebih suka tinggal di rumah gedek dengan peralatan dan gaya hidup sederhana. Uang yang begitu melimpah dari para pembeli jamu, akan ia kasih secara percuma kepada orang-orang. Meski uangnya banyak, ia tak menggunakannya untuk membuat rumah atau sekadar membeli perabot yang lebih mewah dari yang selama ini ada.

“Apa tidak sebaiknya, uang Emak itu separuh digunakan untuk berbagi dan separuhnnya lagi digunakan unutk menabung sebagai persiapan membangun rumah?” tanyaku spontan, muncul ketika kami sedang duduk santai di tubir lincak bambu, menemani Emak yang sedang  menghabiskan semangkuk bubur.

“Aku lebih suka rumah seperti ini, Nak. Jika kamu tak punya mata, dan melihat dengan mata jiwa sepertiku, pasti kamu juga akan lebih senang pada rumah seperti ini,” jawab Emak sambil melesakkan ujung sendok pada apitan sepasang bibirnya.

“Bagaimana jika rumah ini suatu saat roboh atau rusak, Mak. Rumah ini sudah terlalu tua.”

“Nah, itu dia. Meski rumah ini sangat tua, tak sekalipun aku pernah memperbaikinya. Sejak zaman penjajahan sampai saat ini, rumah ini tetap kokoh. Atas izin Allah, badai dan hujan deras tak mampu merobohkannya. Mulut rayap tak mempan mengunyah cagak dan gedeknya.”

Arsip Cerpen di Indonesia