Selanjutnya, gayung bersambut. Malam itu pembicaraan mereka merentet ke mana-mana. Mulai dari hobi musik yang sama: jazz, sampai pasangan hidup. Mulai dari rumah tangga sampai kehidupan masa lalu. Mereka menyelipkan guyonan-guyonan garing yang entah kenapa, terasa amat renyah bagi keduanya. Sesekali mereka cekikian bersama. Seolah sudah kenal cukup lama.
“Lucu sekali, kita baru saja kenal, dan sudah seakrab ini,” Barra memancing.
“Mungkin kita jodoh,” perempuan itu membalas dengan tawa ringan.
“Jodoh?”
“Jodoh kan bukan berarti pasangan hidup saja. Bisa jodoh berteman, jodoh ngobrol, atau mungkin jodoh yang lain.”
Baca juga: Jatah Air Mata – Cerpen Agus Salim (Haluan, 25 November 2018)
“Senang sekali kalau begitu, bisa berjodoh dengan wanita cantik,” Barra memulai gombalannya. Perempuan itu tersipu-sipu. Barra menyunggingkan senyum kemenangan. Ia langsung paham tipe perempuan yang ada di hadapannya. Beberapa kali Barra memesan bir dan mengajak perempuan itu bersulang.
“Tenang saja, malam ini saya yang traktir, sepuasnya,” ungkap Barra.
“Saya jadi tidak enak.”
“Tak perlu sungkan. Kalau perlu, kalau situ mau, saya bisa antar pulang kok. Serius!” Barra meneguk birnya sekali lagi. Seusai percakapan, dalam keadaan setengah mabuk, Barra menggandeng perempuan itu ke dalam mobilnya, namun mereka tidak segera pulang. Percakapan singkat dan hangat itu berakhir dengan chek in.
Mungkin Barra jatuh cinta atau semacamnya. Untuk pertama kali, pengalaman malam itulah yang paling membara yang pernah ia cecap. Hal yang tak pernah ia dapat dari istrinya. Hari berikutnya Barra rutin mendatangi perempuan itu, menjadi pengantar-jemputnya. Sesekali bila mau, mereka chek in suka-suka. Biasanya mereka melakukan itu di akhir pekan.
Baca juga: Secangkir Kopi – Cerpen Catherine Lacey (Haluan, 11 November 2018)
“Apa kau tidak khawatir istrimu curiga?” lirih perempuan itu. Mereka masih meringkuk, berpeluk di balik selimut.
“Istriku sudah paham, akhir pekan biasanya aku ada dinas keluar kota.”
“Tapi, akhir-akhir ini, kau selalu menghabiskan akhir pekanmu denganku.”
“Karena ini lebih menarik dari tugas dinas,” Barra tersenyum.
“Apa kau tidak takut dipecat bosmu?”
“Mana mungkin aku memecat diriku sendiri.”
Mereka tertawa kecil.