Bekas Lipstik di Bibir Cangkir

“Maaf, sudah membuatmu menunggu,” segera perempuan itu duduk.

“Minum apa?”

“Capucino saja.”

Barra melambaikan tangan. Seorang pelayan segera menyambutnya.

“Tambah capucino.”

Beberapa saat mereka terdiam. Tiba-tiba suasana menjadi rikuh. Barra tak tahu harus memulai dari mana. Ketika Barra mulai menyusun kata-kata dalam benaknya, perempuan itu sudah angkat suara.

“Maaf, tampaknya, kedatanganku kali ini akan mengecewakanmu,” tutur perempuan itu lembut. Secangkir capucino datang. Mereka terdiam. Perempuan itu menyeruput pelan capucinonya sebelum mengelap bibir dengan tisu. Barra memerhatikan bibir merah itu. Ingin rasanya ia…

Baca juga: Pete Si Kerdil – Cerpen Carol Moore (Haluan, 07 Oktober 2018)

“Maksudmu?”

“Mungkin belum terlambat.”

“Apanya yang belum terlambat.”

“Hubungan kita. Kita akhiri saja.”

Barra tercekat. Hanya memandangi bibir merah perempuan itu.

“Kita khilaf, Bar. Dan ini masih bisa diperbaiki.”

“Apanya yang khilaf, apanya yang masih bisa diperbaiki?”

“Hubunganmu dengan istrimu. Pulanglah dan berlututlah di hadapan istrimu. Ia pasti akan memaafkanmu.”

Baca juga: Tembok Kamar – Cerpen Linda A. Lestari (Haluan, 30 September 2018)

Barra mengerang. Ingin rasanya ia membanting meja dan cangkir di hadapannya.

“Setelah kupikir-pikir, kita sudah melupakan usia, Bar. Sebaiknya kita bertobat.”

“Apa kau mencermahiku?” suara Barra bergetar.

“Aku hanya menceramahi diriku sendiri, tapi maaf jika kau harus ikut mendengarnya.”

“Bukankah katamu, di dunia ini, kebahagiaan cuma ada satu. Jika kita ingin bahagia maka kita harus merebutnya dari orang lain,” Barra berusaha tenang, tapi suaranya masih terdengar bergetar. Jelas sekali.

“Kedengarannya itu terlalu bar-bar.”

“Tapi memang begitulah kenyataanya.”

Perempuan itu silih terdiam. Menunduk. Seperti menatap sesuatu dalam cangkir capucinonya.

“Mengapa kau diam?”

“Kita sudah terlalu banyak berbohong, Bar.”

Arsip Cerpen di Indonesia