Perang Dua Tahun; Tansi Chatib Bajanoeddin; Buah-Buah Ratap

Perang Dua Tahun, Tansi Chatib Bajanoeddin, Buah-Buah Ratap ilustrasi Koran Tempo

Perang Dua Tahun, Tansi Chatib Bajanoeddin, Buah-Buah Ratap ilustrasi Koran Tempo 

Tansi Chatib Bajanoeddin

 

Di situ, empat orang raja, duduk bersila

di atas munggul kayu tua. Ada tiga orang tuanku

menitah pada burung, seperti bunyi gesek aur bunyi titahnya,

melewati sebuah lembah, di garis matahari naik matahari turun,

di tepi jalan besar tuan komandur, dengan kereta angin

dan opas menepikan kuda, mengalir batang air,

matahari terasa dekat. Ada tempat

di mana ragam rindu tak berselisih dengan cuaca

di kubu yang kukuh, dari segala jurusan terdengar

salak meriam, seperti bunyi aur, kataku, bergesekan

tebing tarahku buncah di lurah penuh angin,

seorang alim juru terang, Imam Perang

telah turun dari parit-parit penuh ranjau,

pada dahulumu, tempat aku meletakkan siku,

di situ mengalir sungai amarahmu,

di gelanggang menggejolak api.

Mungkin negeri ini dulu hanya padang kuda

sialang setinggi paha dan jika senja hilang-raib

ke dalam kelumunmu, lalu di pinggir bukit ini

kau tatah tanah dan tali-tali nasib memanjang

bagai kau tarik selendang kuning mayang

dari pundakku. Mungkin kita tak butuh cinta

atau yang semacamnya, dalam tindakan wajar

kukulum lagi hasratku dari tepi kawahmu,

merabuk udara, hibuk pucuk-pucuk akasia,

di pangkalnya, empat orang raja, duduk bersila

di atas munggulnya, munggul tua, kataku.

Pada lepuh damar, telah tumpah dawat

ke kuning kertas, telah terbang kawat

ke jarak luas, di luar keras angin, menampar

nampar, pucuk pisang melepai-lepai

dan berderit engsel

dan palang pintu tanggal.

 

Arsip Cerpen di Indonesia