Mereka yang telah menemukan saudara dengan bendera warna yang sama akan semakin mudah perjalanannya. Dan ketika perjalanan mereka semakin mudah, akan semakin mudah pula mereka menemukan naungannya. Setelah mereka menemukan naungan tempat berteduh mereka berehat dengan jenak sebelum melakukan perjalanan baru yang lebih panjang dengan gerombolannya.
Lalu lalang itu begitu bingar, dan kian waktu, matahari kian turun mendekati kepala. Nasib malang akan segera menghampiri mereka-mereka yang tidak menggenggam bendera. Orang-orang tanpa bendera itu akan berjalan ke sana kemari bagai selembar kertas yang diimbak angin. Tak diterima di naungan manapun. Ketika mereka merasa haus, mereka akan berjalan memelas mendekati orang-orang dengan bendera, lalu mereka akan berujar, “Tidak adakah seteguk air untuk kami? Kami begitu kehausan, kasihanilah kami!”
Baca juga: Tanah – Cerpen Yuditeha (Kedaulatan Rakyat, 02 Desember 2018)
Lalu, orang-orang dengan bendera akan menjawab dengan wajah menyesal, “Sungguh kami meminta maaf. Lihatlah, keluarga kami yang sedang berdiri bersama kami juga didera kehausan dan mereka belum minum setegukpun. Tuhan menyuruh kami mendahulukan mereka.”
“Mintalah seteguk air pada saudaramu, aku sangat yakin saudaramu akan dengan senang hati membaginya,” ujar yang lain.
Lalu, orang-orang tanpa bendera itu akan menunduk sedih, “Kami tak punya bendera. Kami tak punya saudara. Sebab itulah kami meminta-minta.”
Baca juga: Kemeja Batik – Cerpen Muna Masyari (Kedaulatan Rakyat, 25 November 2018)
“Kami di sini bersaudara, berkeluarga, sebab kami memiliki kesamaan. Aku melihat cukup banyak orang yang tidak memiliki bendera. Bukankah mereka serupa denganmu? Bukankah mereka semua saudaramu?”
“Betul, mereka semua memang saudaraku, kami punya kesamaan, sama-sama tidak memiliki bendera. Dan kami sama-sama tidak bisa saling membantu, bahkan kami tidak bisa membantu diri kami sendiri. Dan yang paling buruk, kami semua tahu, kami tak akan pernah menemukan naungan. Sebab kami tak punya bendera.”