Seperangkat Alat Teror

Asap menyebar menciptakan bau spesial yang menandai akan datangnya hari-hari terbaik dengan uang saku bernama lebaran. Dia menghirup-hirupnya dalam pesta menakjubkan yang tak terjangkau oleh imajinasi orang tuanya. Dia merayakannya dengan hora-hore paling jujur, yang membuat ayahnya bergeleng di beranda sembari menikmati kolak pisang dalam mangkuk keramik bergam- bar ayam jago.

Sementara ibunya datang menegur. Membawa peci putih kecil dan sarung kecil. Memintanya segera ke musala.

“Malah main petasan!” bentak sayang dari ibunya.

“Jangan tutup telingamu,” lanjut ibunya, “dengarkan petasannya! Orang lain yang kaget mendengar. Kamunya menghindar.”

Dia kaget ibunya datang. Menjewer sesaat. Dia melirik ayahnya di beranda, mencari pembelaan.

Dia tahu anak-anak perempuan, seperti ibunya, jarang main petasan. Anak-anak perempuan itu pula yang pada tahun-tahun berikutnya menjadi sasaran petasannya ketika dia tumbuh semakin remaja.

Mula-mula dia pulangTarawih lebih dahulu, sembunyi pada dahan pohon jambu biji di tepi gelap jalan pulang.

Dan pada hari ketika dia bersiap meledakkan dirinya sendiri di jalan orang ibadah, ada gejolak menggelegak sesak dalam batinnya. Dia mengingat jalan ledakan petasan- petasannya sepulang dari musala kecil. Musala tempatnya pertama kali belajar a-ba-ta, yang telah lama dia lupakan, buat apa, sesat semua di sana, pikirnya. Yang justru dia ingat adalah gambaran rembulan bulat telanjang di langit jemih. Mungkin malam penentuan. Mungkin banyak bidadari di atas sana. Juga bayangan ujung nyiur tertiup angin. Kerlip lampu musala. Riuh anak kecil. Dan semut yang muncul dari sarang, menyerang tiba-tiba.

Anak-anak perempuan yang pulang itu teman-temannya sendiri di sekolah. Juga teman sepermainan di teduh kampungnya.

Dia bersama dua temannya bersiap meneror anak perempuan lewat. Kali ini, berkat keberanian- nya yang tumbuh mengagumkan, petasannya lebih besar dari jenis cabai rawit. Petasannya bergambar singa. Seukuran sosis bakar yang dijual di depan sekolahnya. Sumbunya lebih panjang, seperti ekor tikus. Reaksinya lebih cepat. Letusannya sepuluh kali lipat ban sepeda yang meledak kepanasan. Asapnya juga lebih banyak. Kertasnya bahkan akan berhamburan seperti sebuah pesta pengantin bahagia, yang membuat dia dan kedua temannya menjadi seperti sekawanan singa jantan terhonnat.

Arsip Cerpen di Indonesia