Dihalalkan darah pengkhianat. Dia bergidik. Bulu kesadarannya merinding. Dia telah mencium aroma mesiu pada hari-hari sebelumnya. Juga darah. Tetapi, baru kali itu dia mencium aroma mesiu yang menumpahkan darah temannya, sahabat terakhirnya.
Tiba-tiba tubuhnya diam dalam gerak menata lilitan kabel pada tubuh.
Tiba-tiba dadanya bergejolak.
“Bersiap,” pesan pada alat suara. “Jauhkan dirimu dari bisikan iblis! Ingat baiat. Ingat surga empat puluh bidadari telanjang indah seperti purnama, serta sirnanya semua penderitaan.”
Dia malah teringat anak-anak perempuan sepulang dari musala. Rembulan telanjang. Nyiur dan desa yang hening.
Dia teringat jempol temannya yang meledak oleh petasan singa dan rasa terbakar setiap hari. Peci kecil. Ibu. Sarung kecil. Ayah. Mangkuk jago. Korek tiga durian. Petasan cabai rawit. King Kong dan anaknya. Singa. Luka kepala. Bau amis dan mesiu. Pohon jambu biji. Kemah rahasia. Padang pasir. Menolak upacara bendera. Para pimpinan. Ledakkan diri kalian sendiri. Masuk surga secepatnya. Sahabat berkacamata. Jangan bunuh orang lain.
Tidak!
Dia melawan gema pikirannya sendiri. Dia teguhkan diri, kemudian pergi dengan motor.
Melampaui agenda, saluran suara pengawas berbunyi di telinga kiri.
“Kamu di mana? Mengapa belum ada pesta pengantin?”
“Di kantor polisi,” jawabnya seketika mengejutkan suara di seberang sana.
“Kok? Harusnya kamu ledakkan di keramaian ibadah kaum sesat. Mengapa kamu ubah sasaran?”
“Aku tidak mengubah sasaran.”
“Maksudmu?”
“Aku menyerahkan diri dan mengajak polisi ke markas kita. Kami sudah di depan. Tolong bukakan pintu.”
“Sialan!” ***
Eko Triono lahir di Cilacap, 1989. Novel pertamanya, Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-masing (Gramedia Pustaka Utama, 2018), merupakan Pemenang III pada Unnes International Novel Writing Contest. Buku cerpennya, Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon? (Divapress, 2016), menjadi Buku Sastra Indonesia Terbaik Balai Bahasa Yogyakarta 2017 dan 5 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2016.