Ustaz Jamal sering memperhatikan Amzani ketika memandang foto Kalena. Sering pula ketika berbincang Amzani tergagap karena sering perhatiannya tertuju pada foto Kalena. Kepada istrinya yang sering dipanggil umi Maysun, Ustaz Jamal menceritakan tentang Amzani. Umi Maysun hanya tersenyum-senyum.
“Sayang ya Abi, Kalena lebih dulu mengenal Fatih, teman kuliahnya itu daripada Amzani.”
Pada saat itu terdengar ringtone panggilan dari telepon seluler milik Ustaz Jamal. Ustaz Jamal mengangkat telepon.
“Besan kita Umi, Haji Jufri,” jawab ustaz Jamal berbinar.
“Halo, assalamualaikum. Apa? Fatih?”
“Ada apa, Abi?” tanya Umi Maysun penasaran bercampur cemas.
“Fatih kecelakaan!”
“Rumah Sakit Pertamina Klayan?” Ustaz Jamal lemas mengucapkan kalimat tarji sedang Umi Maysun terisak-isak mendengar menantunya kecelakaan dan meninggal dalam keadaan mabuk.
***
Enam bulan berselang.
Amzani terpaku saat Kalena membuka pintu. Buru-buru ia memelihara pandangan matanya, begitu pun Kalena terhadap Amzani.
“Waalaikumussalam, Mas Amzani!”
“Ustaz Jamalnya ada?” suara Amzani terdengar nervous.
Kalena menjawab, “Ada, Mas, silakan duduk. Saya panggil abi di kamar.”
Amzani duduk di kursi ruang tamu. Matanya segera tertuju ke sebuah tempat. Alangkah terkejutnya Amzani karena foto Kalena di dinding itu tidak ada lagi di tempatnya. Ia sedikit kecewa sekali pun tadi baru melihat pemilik foto itu.
Ustaz Jamal menemui Amzani yang terdiam di tempat duduknya. Amzani tak menyadari bila di hadapannya sudah duduk Ustaz Jamal.
“Nak Amzani!” panggil Ustaz Jamal.
Amzani tergagap, “Oh, iya saya Ustaz. Maaf saya tidak tahu Ustaz sudah di depan saya.”
“Tadi bapak melihat Nak Amzani seperti kehilangan sesuatu di dinding itu? Ada apa ya Nak Amzani?”
Amzani tersipu, “Oh tidak, Ustaz, saya tidak pantas merasa kehilangan sesuatu yang bukan milik saya sendiri.”