Mencari Kematian

Ruang kesunyian semakin mengimpitnya, pori-pori dari dindingnya membisikan angin yang bercerita tentang kronologis kematian. Ia meraung-raung kembali, sulit sekali baginya saat ini, bahkan dongeng sebelum tidur pun bercerita tentang bagaimana perihnya kematian seseorang yang terlempar dari kematian.

Keadaannya semakin parah, ia tidak bisa tidur saat ini, padahal ia selalu berharap bisa tidur nyenyak dan ketika tersadar ia sudah berada di alam lain dan terlepas dari kematian yang mengejarnya. Walaupun ia tahu, ia telah ditangkap kematian, ia tidak merasakan sakitnya.

Ruangan semakin menyempit membuat otaknya semakin sakit. Ia berpikir untuk segera pergi dan berlari ke mana pun yang tidak memiliki ruang agar ia dapat bernapas dengan baik dan ia dapat berpikir lebih jernih untuk mencari seorang ibu atau seorang ayah. Ia berdiri, menghempaskan ruang yang menjepitnya, dinding-dinding menusuk hatinya, membuatnya sakit karena ketakutan. Akan tetapi, ia tetap menghempaskannya, ia berhasil lolos. la berlari meninggalkan ruang tempatnya bersembunyi. Ia berdiri di atas bukit, meneriakkan amarahnya agar terbang bersama angin yang selalu menghantuinya dengan bisikan-bisikan menakutkan.

Ia melihat sekelilingnya, hutan yang penuh dengan aroma kematian pula, lagi-lagi, kematian ada di sekitarnya, tetapi saat ini ia merasa lebih bebas. Ia melihat kematian hanya tinggal jejak saja. ia melihat bayang-bayang temannya yang diseret, meronta-ronta, ditekuk, lalu disembelih hingga kepalanya menggelinding ke sungai, sementara si penjagal berbicara lagi, lagi, dan lagi sambil tertawa. la melihat bangkai temannya dari atas bukit, bangkai-bangkai yang mengambang di aliran sungai darah, kepala dan badannya terpisah berjauh-jauhan.

Ia masih terus melihatnya dari atas bukit, aliran darah itu mengalir ke sawah-sawah. Di sawah itu, ia melihat dirinya sendiri dan teman-temannya sedang bersemangat bekerja, tanpa mereka sadari bahwa kematian sedang menuju ke sawahnya. Darah-darah sudah menyentuh kaki ia dan teman-temannya, namun tak ada satu pun yang sadar akan kematian itu.

Ia melihat dirinya lagi, ia melihat dirinya diringkus oleh banyak orang, diseret dengan paksa, ia melihat dirinya pergi meninggalkan sawah dan hilang dari pandangannya, lalu angin berbisik, angin mengajak matanya terbang menuju sebuah ruang, ruang di mana ia dikumpulkan untuk menunggu pergiliran pembunuhan. la memejamkan matanya, ia tidak ingin melihatnya lagi, ia tidak ingin melihat dirinya menunggu hal yang menyakitkan dan menyesakkan.

Arsip Cerpen di Indonesia