Di atas bukit ia menangis, ia bersimpuh, sesegukan dengan hebat, lalu tertawa. Terlalu lucu untuk dirinya menakuti hal yang sudah berhasil ia lalui.
Angin semakin jahat, angin terus menceritakan kisah buruk, kisah paling kelam dalam hidupnya. Ia tidak sanggup membayangkannya lagi, tetapi angin terus membawa terbang matanya, ia menutup matanya, menutup matanya dengan kuat menggunakan tangan keringnya, ia tidak ingin matanya dibawa berkelana oleh angin, angin tetap mengajaknya, ia tidak bisa menahan matanya lagi, ia memutuskan untuk mencungkil matanya sendiri, agar ia tidak merasa kesakitan lagi melihat dirinya sendiri kesakitan. Matanya ia keluarkan dengan paksa, lalu menggelinding dari atas bukit menuju sungai darah yang pernah ia lihat.
Ternyata, sarafnya masih terhubung, matanya yang terjun ke dalam sungai justru melihat semua bangkai teman-temannya di dasar sungai, ia semakin menangis, tapi saat ini ia tidak bisa mengeluarkan air mata lagi, matanya sudah hilang dan penuh oleh mayat
Ia memaksakan agar otaknya tidak bekerja, agar sarafnya terhenti, tetapi sulit sekali menghentikan sesuatu yang terlindungi oleh sesuatu yang amat kuat. Ia menjerit lagi, menyesal telah menggelindingkan matanya ke dalam sungai.
Sesuatu yang bisa ia andalkan hanya tinggal kaki dan tangannya saja. Ia berdiri di atas bukit, ia tidak akan bersimpuh, ia mengambil apa pun yang terpegang pertama kali oleh tangannya, ia mengambil batu besar, ia menekuk kakinya sendiri, ia ditekuk di atas bukit, ditekuk oleh kakinya sendiri, ia mengambil batu itu dan memaksa memecahkan kepalanya agar otaknya tidak berfungsi lagi dan tidak akan mendengarkan cerita buruk yang saat ini dikabarkan angin. la terus memukul kepalanya, menghancurkan kepalanya hingga darah berlumuran dan kakinya yang tertekuk mulai lemas, dan angin membawa raganya terbang. Angin mengajaknya pergi menuju apa yang ia rindukan, kematian. ***