Lelaki yang Dipasung

Tak tahu kenapa aku begitu penasaran. Sekali waktu aku mengunjungi lelaki yang dipasung di gubuk itu. Nyaris tidak ada yang berubah, kecuali atap gubuknya yang bocor saat hujan dan bau pesing yang semakin menyengat.

Aku membawa makanan dan minuman untuknya. Aku cukup sigap, bila tiba-tiba lelaki itu mengusir dan melemparku dengan barang-barang yang ada di sekelilingnya.

Aku menaruh makanan dan minuman di sampingnya. Lelaki itu menoleh ke arahku.

“Kau, anak kecil yang dulu sering mengintipku, kan?”

Ia bertanya. Aku kaget bukan main. Sekujur tubuhku gemetar. Bagaimana mungkin lelaki ini—yang kata orang gila— memiliki ingatan yang tajam? Atau, ia hanya ingin menggertakku?

Baca juga: Arwah Titisan – Cerpen Destya Tika Ananta (Radar Banyuwangi, 09 Desember 2018)

“Kau mengenalku?” tanyaku sambil menyembunyikan rasa takut dan gugup.

“Bagaimana mungkin aku lupa, kau yang paling sering datang ke tempat ini dan suaramu paling nyaring ketika berteriak dari balik gubuk ‘orang gilaaa, orang gilaaa…’ tapi, kau tidak perlu takut. Aku bukan orang gila.”

“Apa maksudmu?”

“Ya, dari dulu aku tidak tahu harus mengatakan semua ini kepada siapa. Fitnah itu membuat semua warga marah dan membenciku, lalu memasungku di tempat ini.”

Aku tidak tahu harus bagaimana. Lelaki itu bercerita panjang lebar mengenai kejadian yang sebenarnya. Sehingga, kisahnya dan kisah yang diceritakan Wak Uje seolah bertarung di kepalaku.

Baca juga: Purnama di Pantai Boom – Cerpen Ahmad Zaini (Radar Banyuwangi, 02 Desember 2018)

“Lalu, siapa yang membakar rumah, membunuh istri dan anakmu?” tanyaku.

“Tidak lain kalau bukan orang yang memfitnahku, Wak Uje, tukang kebun rumahku sendiri,” jawabnya.

Seketika itu, jantungku seakan berhenti berdegup. Aku terdiam. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Sedangkan alasan, kenapa Wak Uje melakukan itu, lelaki yang dipasung itu memintaku untuk tak menceritakannya pada siapa pun.

“Tidak baik mengumbar kejelekan almarhum pada orang-orang, aku sudah ikhlas,” kata lelaki itu.

“Lantas, kenapa kau menceritakan semuanya padaku?”

“Aku tahu kau orang baik. Tapi, aku tidak tahu sampai kapan umurku. Kelak, kalau aku mati, masih ada satu orang yang bersaksi baik atas hidupku,” lanjutnya lirih.

Perlahan ada yang berdesir di rongga dadaku. Kulihat lelaki yang dipasung itu tersenyum, meski kedua matanya berkaca-kaca.

***

Arsip Cerpen di Indonesia