Aku semakin tidak tahan. Akhirnya, aku melanggar janji untuk tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya. Aku menceritakan semuanya pada mereka. Tetapi, bukannya berhenti, orang-orang malah semakin menertawakanku. Mereka terang-terangan bilang kalau tidak percaya akan kisahku. Mereka bilang aku mengadangada. Mereka menyebutku gila.
Aku benar-benar kehilangan kesabaran. Kubanting gelas kopi di hadapanku. Mereka malah tertawa. Aku semakin kalap. Kulemparkan semua gelas di atas meja, asbak, kursi, dan apa saja yang ada di dekatku. Bahkan kepada orang-orang yang ada di warung itu, yang sengaja maupun tidak, matanya menatapku dengan curiga sambil tertawa melihat tingkahku.
Sampai beberapa orang menangkapku. Tanganku diikat. Aku meronta sekuat tenaga.
“Benar kan, dia itu memang gila,” seseorang yang entah dari mana bersuara. Aku semakin keras meronta. Aku semakin mengamuk. Aku tidak terima seseorang menuduhku gila. Sementara orang-orang makin mengepungku. Tiba-tiba, aku merasa pandangan mataku menggelap…
***
Dalam setengah sadar, aku kaget. Sebuah balok kayu menjepit kedua pergelangan kaki. Tanganku juga dirantai. Bau pesing menyeruak di hidung. Aku kenal tempat ini, batinku. Saat kesadaranku hampir seluruhnya kembali, kulihat di sebelah kiri, lelaki yang dipasung itu tersenyum ke arahku, lalu tertawa melihatku.
Sidoarjo, 2018
Faruqi Umar, lahir di Sumenep 09 April 1993. Mukim di Sidoarjo, Jawa Timur.