Secangkir Glühwein untuk Darda’il

Lagi pula aku sudah telanjur yakin bahwa aku memang hidup untuk sendiri, diam-diam mengamati, merekam tiap getir, keluh kesah, atau harapan yang kadang terkatakan lantang, kadang lemah dalam bisikan, atau bahkan yang teredam dalam diam dari tiap manusia. Itu adalah kegemaranku, sekaligus tugas yang tak pernah lepas dariku. Aku akan berpindah, selalu tak pernah menetap lama. Aku hanya mendengar dan tak harus mengenal kata berbagi, ingin, atau lain-lainnya lagi.

Tetapi, kenyataan sekarang memang sungguh ganjil. Meski makhluk bernama Helen ini kusadari sedang menginterupsi kesendirianku, aku tak cukup punya alasan untuk pergi. Cuaca di luar teramat buruk: kabut membuat jarak pandang berkisar tiga meter, dan membuat segelas glühwein panas hanya mampu mempertahankan kehangatannya tak lebih dari waktu yang dibutuhkan mengisap setengah batang cerutu. Lagi pula, selain penjaga gerai di weihnachtsmarkt yang meringkuk menahan dingin dan kantuk, tak ada lagi makhluk selain aku dan gadis kejutan ini. Mana bisa mendadak pergi?

“Rupanya kamu orang yang suka diam, ya?” tanyanya lagi. Aku menggerakkan sedikit kepalaku, dan kutarik alisku agak ke atas. Dia mengangguk, seakan memahami maksudku.

Baca juga: Gadis Kamarian, oh Gadis Kamarian (Bagian – 2 Habis) – Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 09 Desember 2018)

“Baiklah. Kalau begitu, aku saja yang berbicara. Kalau kamu mau membalas, aku akan senang. Kalau kadu diam pun, tidak mengapa. Aku hanya ingin kamu tahu. Deal?” Begitu katanya. Aku menghela napas panjang dan mengangguk. Ah, ini akan jadi lebih lama dari yang kuduga, pikirku.

Jam menunjuk pukul dua dini hari ketika dia bercerita tentang hidupnya: yatim-piatu semenjak usia sembilan tahun; kerja sambil belajar di suatu perguruan tinggi di daerah pinggiran Hamburg; bertunangan dengan seorang pelaut untuk kemudian gagal karena kapal yang dinakhodai kekasihnya dinyatakan tak akan pernah berlabuh kembali di suatu malam badai beberapa tahun lalu.

Aku memang tak seberapa menghiraukan ceritanya. Tetapi, dapatlah kukatakan bahwa pada awalnya dia mampu bercerita dengan jelas dan kronologi. Namun, selepas dia menenggak lima–enam gelas glühwein dicampur dengan rum, bicaranya jadi tak keruan. Ini diperparah dengan cerutu tipis yang daun tembakau dan kertas lintingannya dijual terpisah itu. Helen mengeluarkannya tanpa perasaan bersalah sedikit pun, melintingnya, lalu mengisapnya dengan detail bibir yang begitu subtil hingga per satuan helai asap seolah terlalu sayang untuk dibuang. Aromanya sungguh kuat dan khas. Maka, beberapa saat setelah itu, jadilah semua yang diceritakannya terkesan ambigu, tak tentu maksud, dengan ekspresi bicara yang teaterikal dan terkesan absurd.

Arsip Cerpen di Indonesia