Helen seakan bermonolog, dan kalimatnya yang terakhir itu seakan marah sekaligus lemah, dan jujur saja aku sedikit tertarik.
“Kenapa kamu masih diam saja? Kamu mengerti ceritaku, kan?” tanyanya.
Pada jarak dan suasana sedemikian dekat, aku putuskan untuk membalas tatapannya. Ah, sepasang mata yang indah, namun dengan tatapan kesepian yang begitu pucat. Kukira Helen juga merelungi mataku, dan kurasakan kini dia sengaja lebih mendesakkan tubuhnya kepadaku. Tapi, sungguh, aku tetap tak menemukan alasan untuk berlaku lebih dari diam.
Baca juga: Makplaaas, Tiba-Tiba Lupa – Cerpen Edi A.H. Iyubenu (Jawa Pos, 11 November 2018)
“Kenapa kamu baru datang sekarang, malaikatku?” Nada bicaranya kini selembut kabut. Diraihnya tanganku, lalu ditempatkannya pada pipi kanannya yang basah oleh air mata. Aku membalas pandangan matanya yang masih membasah, sama dalam dan tenangnya. Sementara aku dan dia saling melepaskan pandangan, aku merasa di antara jarak pandang itu beribu cemara tumbuh menjulang begitu rimbun dan tinggi. Terlalu rimbun, hingga aku, dan mungkin dia, tak bisa melihat sesuatu yang dicari dengan lebih seksama. Tak bisa! Hanya bisa saling menebak-nebak, memanjat, kemudian turun, dan naik di pohon yang lain lagi, begitu seterusnya, berharap bisa menemukan sudut penglihatan yang lebih baik.
Mendadak ia melepaskan tanganku, berdiri dan berjalan agak linglung, menoleh sejenak ke arahku, lalu pergi menembus kabut dan gerimis. Ah, segelas glühwein yang Helen berikan untukku bahkan belum terminum separo.
Ketika melihat punggungnya menjauh, sungguh aku tak tahu persis apa yang sebenarnya Helen pikirkan atau duga tentangku. Mungkin ia berpikir bahwa aku bisu. Atau, aku tak berminat pada nafsu. Aku maklum, dan itu bukan masalah bagiku. Tapi, karena kejadian barusan, aku mulai berpikir bagaimana seandainya aku ini manusia, yang ternyata bisa begitu rela melakukan apa saja demi menawarkan rasa sepi dan kerinduannya….
Hamburg, 2018
Möwe: camar
Krähe: gagak
Taube: merpati
Glühwein: Minuman lokal Jerman. Terbuat dari campuran wine, jeruk, dan rempah-rempah yang disajikan hangat. Hanya dijual di bulan Desember jelang perayaan Natal
Weihnachtsmarkt: Pasar Natal, umumnya buka sore hingga dini hari
K.Y. Karnanta a.k.a Kukuh Yudha Karnanta, staf pengajar di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FIB Universitas Airlangga Surabaya. Visiting lecture di Departemen Languages and Cultures of Southeast Asian Universitat Hamburg, Jerman.