Dia terduduk sembari menikmati hangatnya kopi susu. Diisapnya pelan, hendak hati menikmati selagi menyaksikan informasi terkini. Sesaat mata bergerak, bertemu kabar negara. Kedua alisnya menyatu, di baliknya tanpa pikir panjang. Seketika sudut bibirnya membentuk lengkungan senyum. Disebut surat kabar prestasi yang diraih olehnya. Terbilang satu-dua kata saja. Namun, senyum lebar tak terelakkan. Begitulah manusia, seketika diri di atas udara, melambung tinggi sejauh angkasa.
Perlahan. Kata demi kata ia lahap. Kalimat per kalimat. Tanggal dan waktu. Sementara itu, ketukan pintu bergema. Naomi, sekretaris pribadi cantik nan seksi dengan pakaian super mininya. Menyihir kaum adam hingga tak kedip sekalipun. Cukup mengelus dada bagi mereka yang mengerti adat asusila. Namun, apalah kata asusila jika sang ‘Bos’ pribadi meminta. Lagipula, sang sekretaris tak berkeberatan berbusana apa pun, asalkan…fee. Bukan masalah besar untuk lelaki borjuis yang tengah tersenyum berbangga diri dengan surat kabar internasional itu.
“Pak, untuk proposal di ibu kota provinsi C sudah diterima, sudah saatnya kita mengirim orang untuk proyek besar kita di sana,” ujarnya dengan suara genitnya.
“Oke,” jawab lelaki itu singkat, tak berkilah sedikit pun dari lembar abu itu.
“Dan, untuk penambahan infrastruktur di kota B, sudah ditangani Davin. Surat-menyurat. Data lengkap. Pengabsahan lunas. Lancar tanpa beban. Sedikit kontra. N mun, bukan masalah. Seperti biasa,” ujarnya lagi. Sesekali melirik lelaki muda itu. Berharap sedikit respons darinya.
Namun, harapan bersisa harapan. Ia tak disibukkan lagi dengan surat kabar. Ia berbalik ke smartphone. Diperhatikannya lamat-lamat, mematut dagu, lantas lelaki itu membuka mulut. Kalimat yang tak diharapkan wanita muda itu.
“Naomi, mulai detik ini. Jangan kenakan baju seperti itu lagi. Longgarkan & panjangkan. Berbusanalah seperti Naela atau Fitri. Pakailah uang yang baru saja kumasukkan dalam rekeningmu. Sekarang. Cepatlah,” sahutnya satu tarikan napas. Tanpa jeda. Tak ada waktu untuk Naomi menolaknya. Naomi menganga dalam keterpakuannya. Ia berpikir berkali-kali. Ia hanya mengangguk mengiyakan permintaan bos yang selalu memanjakannya. Berbalik. Membuka pintu, berjalan tanpa arah. Bergumam, apakah dia melakukan kesalahan? Ia tak pernah terlihat tidak nyaman dengan pakaian yang ia kenakan kali ini. Bahkan, ia menyukainya. Apa? Seperti Naela?