Ada nada sedih saat mulutnya mengucapkan kalimat itu. Air kembang bercampur doa terus ia percikkan tanpa henti. Perempuan itu begitu benci terhadap laut. Bahkan, jauh sebelum suaminya mati tenggelam, sangat jarang Marni pergi ke laut walaupun jarak rumahnya dengan laut berdekatan. Ia lebih memilih berdiam di rumahnya. Semenjak itu pula, Marni tidak lagi menekuni pekerjaannya sebagai penjemur ikan di tepi pantai, apalagi sampai berperahu sendirian seperti yang ia laukan malam itu.
Baginya, laut tidak lebih dari sesosok maut. Dulu, Bapaknya seorang pelaut besar juga mengalami hal yang sama, tenggelam dan meninggal di tengah keluasan samudra. Setelah kematian Bapaknya, Marni merasa trauma hidup di kampungnya sendiri, kampung pesisir, pulau garam. Ia selalu membujuk suaminya untuk pergi ke Jakarta.
Malam itu, sambil mendayung dan memutar-mutar perahu kecilnya di antara jarak tiga puluh meterjauhnya dari tepian pantai, Marni berkeinginan untuk mengakhiri kehidupannya di pulau garam, pulau yang dipercaya sebagai penghasil garam terbesar di kampungnya. Tak ada lagi yang bisa aku harapkan dari laut ini. Gumamnya lirih. Ia akan pergi ke Jakarta untuk memulai kehidupan barunya sebagai penjaga toko kelontong. Ia tidak bisa lagi membendung kabar yang terus menerus menghujani telinganya bahwa hidup di bumi Jakarta bisa mengubah perekonomian orang-orang yang senasib dengan dirinya. Di Jakarta kita bisa hidup mewah, bisa membangun rumah, beli mobil, tanpa bekerja keras. Begitu kabar yang selalu ia dengar.
Ketika suaminya hidup, Marni selalu mengusulkan hal itu. Tapi Marto, suaminya tidak pernah setuju. Marto merupakan lelaki yang tangguh, ia tidak ingin meninggalkan tanah moyangnya sekalipun harus hidup terluntalunta.
Di tengah kehidupan kampungnya yang semakin sepi oleh penduduk, Marto tidak setuju jika dirinya juga ikut dalam perantauan itu. Baginya, hidup di Jakarta belum tentu menjamin kehidupannya menjadi lebih baik. Sebagai biaya ongkos, tentu ia harus menjual sebagian lahannya ke pihak asing. ltulah yang dilakukan kebanyakan orang di kampungnya. Dalam kondisi sosial seperti itu, pihak-pihak asing pun banyak yang datang untuk membeli lahan-lahan mereka dengan harga yang sangat mahal.
Marto tidak ingin hal itu terjadi pada keluarganya. Ia tidak ingin jika kampungnya harus ditanami bangunan-bangunan beton bertingkat tinggi. Sebagai orang yang hidup di kampung pesisir, pulau garam, Marto ingin tetap mempertahankan pendiriannya sebagai seorang pelaut. Ia ingin membuktikan kepada penduduk kampungnya bahwa bukan karena pergi ke Jakarta kehidupan seseorang bisa lebih baik dan lebih mewah.