Marni

Namun, usia Marto tidak sepanjang harapannya. Di tengah musim hujan saat ia sedang berlayar, tiba-tiba badai besar melenyapkan semuanya. Marto tenggelam bersama perahunya yang karam. Hingga sampai usia kematiannya mencapai empat puluh hari,mayatnya masih tidak juga ditemukan. Kepingan-kepingan perahunya yang hancur,semakin memperkuat dugaan Marni bahwa suaminya benar-benar tiada.

“Jika saja kau tidak keras kepala, mungkin kita masih bisa berpelukan. Seperti mereka yang sudah membangun rumah baru di tempat jauh, punya mobil, hidup mewah, tidak seperti kita yang hidup terlunta-lunta. Laut ini sudah tidak menjanjikan apa-apa lagi. Tak ada apa pun yang dapat kita peroleh darinya, selain kesedihan yang sepenuhnya Tuhan peruntukkan kepadaku. Namun, kau masih tetap dengan pendirianmu. Kau masih menaruh harapan besar pada laut ini.”

Sambil mengucapkan kalimat itu, Marni terus memercikkan air kembang bercampur doa ke tengah keluasan samudra. Seakan malam itu benar-banar malam terakhir baginya melakuan ziarah. Sebagai seorang janda yang ditinggal mati suaminya, Marni tidak punya pilihan lain, selain tetap pergi ke Jakarta sebagai penjaga toko kelontong. Ia tidak punya siapa-siapa lagi. Ibunya juga meninggal akibat penyakit sesak napasnya yang tak kunjung sembuh. Keinginannya untuk pergi ke Jakarta sudah bulat. Ia telah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Sebagai ongkos, ia sudah menjual sebagian lahannya kepada pihak asing.

Marni tidak lagi peduli terhadap perkataan suaminya, sekalipun perkataan itu masih melekat dalam hatinya. Saat Marto masih hidup, beberapa kali mereka selalu didatangi pihak asing dan dibujuk agar menjual tanah miliknya. Namun, Marto selalu menolak. Ia juga berpesan pada Marni agar sewaktu-waktu, jangan sekali-kali menyerahkan tanah itu pada siapa pun, dan apa pun alasannya. Karena menjual tanah moyang sama halnya dengan menjual harga diri. Begitu ucap Marto.Tapi, Marni tidak lagi mementingkan perkataan itu. Kehidupan di kampungnya sudah membuat ia lupa segalanya. Apalagi tentang laut yang baginya hanya membawa penderitaan.

***

REMBULAN perlahan buram. Warna langit akan segera berganti. Sayup-sayup kokok ayam pun terdengar bersahut­sahutan. Namun, Marni tetap saja di tengah laut itu. Ia tetap mendayung dan memutar­mutar perahu kecilnya di antara jarak tiga puluh meter jauhnya dari tepian pantai. Ia ingin menghabiskan waktunya di tengah laut itu sampai pagi, sebelum akhirnya ia benar-benar pergi memulai kehidupan barunya di bumi Jakarta. ***

Arsip Cerpen di Indonesia