“Tabik Petta, saya ke sini mau cari tahu, setiap kapankah itu polisi hutan datang? Saya mau perbaiki rumah, saya butuh kayu untuk ganti papan yang dimakan rayap, saya mau panggil pasenso untuk cari kayu di hutan.”
“Wah sekarang sudah tidak bisa tebang pohon di hutan Pak. Daerah ta ini sudah masuk hutan lindung dan taman nasional, bisa ki ditangkap kalau ditahu ki Pak! Polisi hutan memang tidak sering datang, tapi orangnya taman nasional itu sering sekali datang Pak.”
“Jadi bagaimana dengan rumahku? Kalau begitu tidak bisa saya perbaiki itu, di mana saya mau dapat uang untuk beli papan kayu? Panen tahun ini hasilnya tidak banyak Petta.”
Lelaki tua itu pulang dengan hati dongkol. Petta Desa hanya menyarankan untuk hati-hati dengan polisi hutan dan petugas taman nasional, lain tidak. Dalam pikirannya, di perjalan pulang ke rumah, lelaki tua itu terus bertanya: kenapa pohon di hutan tidak boleh kami ambil? Apakah saya harus beralih dari rumah kayu ke rumah batu? Tapi uangnya dari mana?
Belum terjawab sengkarut pertanyaan itu, lelaki tua itu dibuat semakin pusing saat baru tiba di rumahnya. Selain karena papan kayu, telepon yang ia tinggal tadi terus berdering. Rahman, anak semata wayangnya, terus menelpon.
“Halo, kenapa bapak baru angkat telepon saya?”
“Saya dari Petta Desa nak”
“Jadi bagaimana Pak?”
“Kau tunda saja keinginanmu nak, rumah harus diperbaiki, uang untuk melamar juga tinggi, saya janji tahun depan saya akan penuhi kenginan ta nak,”
Rahman tidak terima. Lewat sambungan telepon, ia terus merajuk dan membujuk. Lelaki tua itu pun kelimpungan. Bukannya tidak ingin memenuhi keinginan anaknya, lelaki tua itu dihadapkan pada dua hal yang harus diatasi dengan uang: pernikahan anaknya dan perbaikan rumah. Dua hal ini saling terkait satu sama lain.
Apabila lelaki tua itu melaksanakan pesta pernikahan anaknya, sedang rumah belum diperbaiki, tentu keluarga dan tamu yang datang tidak akan nyaman berada di rumah yang sudah hampir rubuh itu. Dan jika perbaikan rumah lebih diutamakan, dengan membeli tiang, papan dan balok kayu, maka uang untuk melamar tidaklah cukup.
Lelaki tua itu pun putar otak, memilih salah satu diantara dua hal itu, atau mencari pilihan ketiga dan pilihan-pilihan lainnya.
***