Rahman terlihat bahagia. Walau badan Rahman masih terasa lelah setelah semalaman menyapa tamu yang hadir di pesta pernikahannya, namun senyumnya terus merekah bersama wajahnya yang berseri dengan potongan rambut yang dicukur rapi. Di teras rumah, ia bercengkrama dengan sanak saudaranya setelah lama tak bertemu selepas dari perantauan.
Saat tenda baru saja dibongkar dan halaman rumahnya mulai dibersihkan dari sampah para tamu undangan, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan rumah. Mobil itu berwarna hijau tua, di samping kiri kanannya bertuliskan polisi kehutanan. Dari dalam mobil, Petta Desa dan dua orang berseragam turun dan bergegas menghampiri Rahman.
Petta Desa menyapa dan langsung menanyakan keberadaan bapak Rahman. Sedang dua orang berseragam itu mengamati kondisi rumah. Mulai dari lantai rumah hingga tiang-tiang penyangga. Merespon pertanyaan Petta Desa, Rahman meminta sepupunya yang paling muda untuk memanggil bapaknya di dalam kamar.
Lelaki tua itu keluar dari kamar, berjalan perlahan menuju teras rumah. Tak ada lagi derit lantai saat ia menapak, yang ada hanya degup jantung yang semakin kencang, saat lelaki tua itu melihat Petta Desa dan dua orang berseragam berdiri dihadapannya lalu salah satu dari mereka menyerahkan sebuah surat yang bertuliskan: Surat Panggilan Pemeriksaan!
Musthain Asbar Hamsah. Masih menempuh studi di Universitas Hasanuddin Makassar