“Tidak perlu naik mobil atau cafe bagus. Lesehan juga tidak apa-apa. Sederhana kan?” suaminya hanya diam. Permintaan itu berkali-kali dilontarkan tapi semua berhenti di janji suaminya saja.
Ilil meremas-remas kalender yang dipegang dari tadi. Dia merasa kalender yang dibawa suami dari kantornya itu, seolah tidak bicara tentang waktu. Dia merasa, kalender itu lebih banyak menampakkan jarak antara dirinya dan suami yang semakin melebar.
“Seperti kita, kalender ini tidak ada yang berubah. Tahun-tahun yang aku lalui terasa panjang. Tapi bagimu tahun-tahun terasa singkat,” suami Ilil menoleh ke arah Ilil yang bicara sambil membuka lembaran kalender penuh coretan rencana yang terabaikan. Dia seperti menghitung kegagalan-kegagalan yang jatuh pada hari-hari selanjutnya. Mungkin saja bulan-bulan selanjutnya.
Baca juga: Boneka Sinterklas – Cerpen Agus Salim (Kedaulatan Rakyat, 23 Desember 2018)
“Percuma punya segalanya jika tidak punya kesetiaan menepati janji sendiri,” suara Ilil lirih sambil menahan isak.
“Aku sudah berusaha!”
“Aku juga berusaha sabar. Menghibur diri selama enam tahun. Sendiri. Kita punya segalanya tapi tak punya ketenangan. Tidak punya momongan!”
“Aku sudah berusaha.”
“Kamu hanya melakukan, tidak memikirkannya. Semua perlu dipikirkan dengan serius. Tapi di kepalamu hanya kerjaan!”
Baca juga: Bendera – Cerpen Mashdar Zainal (Kedaulatan Rakyat, 09 Desember 2018)
“Kita harus sabar. Tuhan belum memberikannya,”
“Jangan libatkan Tuhan kalau kamu tidak serius!”
“Sabarlah.”
“Ini tahun keberapa aku harus sabar!”
“Tahun depan masa jabatanku akan habis. Bersabarlah.”
“Tahun depan siapa yang bisa memastikan keberadaan kita. Bisa jadi kalender ini adalah kalender terakhir yang akan aku tandai dengan rencana-rencana kita,” Ilil melirik suaminya yang duduk mendekur.