Rindu di Tangkai Senja

Aku berusaha mengingat-ingatnya. Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun, tiba-tiba aku ingat sesuatu. “Ya, saya ingat, dia punya dua tahi lalat di pundak kirinya.”

Ustaz muda itu membuka bajunya yang sebelah kiri. Lalu menunjukkan dua tahi lalat di pundak kirinya. Belum sempat aku berkata-kata, tiba-tiba ia menghambur ke dalam pelukanku. “Bapak adalah ayah saya. Subhanallah, terima kasih ya Allah, Engkau telah mempertemukan saya dengan ayah saya.”

Ia lalu mencium tanganku. “Maafkan Adly, Ayah. Adly mohon ridha Ayah,” ujarnya dengan suara bergetar penuh emosi.

Spontan aku memeluknya. Kami berpelukan lama sekali. Tak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutku. Hanya air mata yang terus berderaian tak henti.

Baca juga: Hikmah – Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 02 Desember 2018)

“Maafkan Ayah, Nak. Ayah sangat berdosa kepadamu dan ibumu,” akhirnya keluar juga kalimat itu dari mulutku.

“Sudahlah, Ayah. Tiada yang lebih baik untuk kita lakukan selain bersyukur kepada Allah.”

Ia langsung sujud syukur. Aku pun melakukan hal yang sama: mencium lantai Masjid Nabawi.

Para jamaah umrah yang dibimbing Adly masih berkumpul di sekitar kami. Mereka mungkin bingung terhadap apa yang terjadi.

“Para jamaah sekalian yang dimuliakan Allah. Perkenalkan, ini Ayah saya, Bapak Fatih El Ghozi. Kami terpisah selama 20 tahun. Ceritanya panjang. Tapi satu hal yang pasti: bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin. Allah Mahakuasa,” kata Adly dengan wajah penuh kegembiraan.

Baca juga: Paket Terakhir- Cerpen Syahirul Alim Ritonga (Republika, 11 November 2018)

Satu per satu jamaah memeluk aku dan mengucapkan selamat. Setelah itu, mereka kembali ke hotel.

Aku mengajak Adly masuk kembali ke dalam masjid. Kami duduk berhadapan.

“Nak, bagaimana kabar mamamu?”

“Alhamdulillah sehat, Ayah.”

“Di mana kalian tinggal? Dan bagaimana ceritanya?”

“Setelah berpisah dengan Ayah, mama mengajak Adly tinggal di Cianjur, di rumah nenek. Mama adalah anak satu-satunya. Beberapa bulan kemudian nenek meninggal, sedangkan kakek–seperti Ayah tahu–sudah meninggal setahun sebelumnya. Mama lalu menjual tanah dan rumah warisan.

Arsip Cerpen di Indonesia