“Sayyidah, masih bolehkah aku bertemu denganmu? Aku hanya ingin mencium tanganmu dan mengucapkan permohonan maaf.”
“Terbalik, Mas. Sayyidah yang meminta maaf. Mungkin selama ini Sayyidah belum bisa jadi istri yang baik. Biarkan Sayyidah yang mencium tangan Mas Fatih.”
Aku menggigit bibir. Namun, air mata ini terus saja menderas.
“Pulang umrah besok, aku akan langsung ke Lombok. Aku minta diantar Adly.”
“Semoga Allah berikan kepada kita umur yang panjang dalam sehat dan taat kepada Allah.”
Baca juga: Kupu-Kupu Bersayap Elang – Cerpen Shinta Putri Wulandari (Republika, 14 Oktober 2018)
Namun, keesokan harinya, hanya tiga jam sebelum kami kembali ke Tanah Air, ada telepon masuk ke Adly. Isinya mengabari bahwa mamanya terkena strok, pembuluh darah pecah. Ia langsung dirawat di rumah sakit. Sampai saat ini belum sadarkan diri.
Aku terkejut dan sangat khawatir. Ya, Allah, izinkan aku menemui istriku dan meminta maaf atas segala kesalahanku.
Perjalanan Jeddah-Cengkareng yang hanya delapan jam terasa begitu lama. Ditambah transit tiga jam, kemudian terbang Cengkareng-Lombok selama dua jam. Sepanjang perjalanan dari Jeddah sampai Lombok, aku sama sekali tak bisa memicingkan mataku. Bayangan buruk berkali-kali menghantuiku.
Begitu mendarat di Bandara Internasional Lombok (BIL), Praya, aku dan Adly langsung ke rumah sakit. Istriku masih koma. Adly langsung memeluk mamanya dengan penuh kasih sayang seraya melantunkan berbagai macam doa.
Baca juga: Haji Manap – Cerpen Faruqi Umar (Republika, 29 Juli 2018)
Sejenak aku terpaku. Namun, segera aku cium tangan istriku. Wanita mulia yang telah kutinggalkan begitu saja hanya karena dorongan nafsu. “Maafkan aku, Sayyidah,” bisikku di telinganya. Namun, ia sama sekali tidak merespons.
Selama lima hari, istriku koma. Dokter melakukan berbagai upaya untuk mengobatinya. Namun hasilnya nihil.
Hari keenam, tiba-tiba tangannya bergerak. Segera kugenggam tangannya. “Sayyidah, maafkan aku, sayang.”
Ia menjawab dengan isyarat. Tangannya menggenggam jariku.
“Cepat sembuh ya sayang. Aku ingin kembali hidup bersamamu dan anak kita.”
Namun, tiba-tiba air matanya meleleh dari matanya. Dan pegangan tangannya kembali melemah.
Ia kembali koma. Dan dua hari kemudian meninggal dunia, tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun kepadaku maupun Adly.
***