Kado Terindah

Cerpen Aiko Miyuhara (Pontianak Post, 13 Januari 2019)

Kado Terindah ilustrasi Pontianak Post (1)
Kado Terindah ilustrasi Pontianak Post

“Cewek, sendirian aja nih. Abang temenin, ya?”

Terdengar suara bass di belakangku. Di ujung gang memang banyak laki-laki pengangguran yang sering duduk-duduk sekadar menghabiskan waktu sembari merokok. Jujur saja, walaupun aku sering berpakaian sexy atau ketat, aku tidak suka diganggu seperti itu. Aku risih!

“Baru dateng, Shel? Tumben telat,” ujar Reni, sahabat sekaligus rekan kerjaku.

“Iya nih. Aku telat bangun,” jawabku lalu meletakkan tas di atas meja belakang kasir.

“Jangan keseringan telat. Entar dimarahin bos.”

“Iya, iya. Ini juga baru dua kali.” Aku duduk di atas kursi sembari merapikan rambut.

“Tapi muka kamu kok bete gitu? Kenapa?” tanya Reni.

“Gimana enggak bete, pagi-pagi udah digangguin. Emang mereka enggak ada kerjaan apa, nongkrong di depan gang kayak gitu,” omelku. “Padahal kamu yang sering lewat sana enggak pernah digangguin. Kenapa, ya?”

“Mungkin mereka segan padaku,” jawab Reni.

Aku mengerutkan dahi. “Lho, kenapa? Padahal kamu lebih daripada aku.”

“Kamu enggak liat pakaian aku ini? Laki-laki seperti mereka biasanya segan menganggu perempuan berkerudung lebar. Mungkin ini salah satu hikmah diperintahkannya berhijab.”

Deg!

Aku merasa sedikit tersinggung dengan ucapan Reni. Tapi kuakui apa yang diucapkannya benar. Siapa yang ingin melihat atau mengganggu dirinya? Dengan pakaian tertutup, Reni seolah seperti berlian yang terjaga dengan baik. Terkadang aku ingin seperti dirinya, tapi aku belum siap.

“Aku bersyukur toko ini mau menerima karyawan dengan pakaian tertutup seperti aku. Apalagi bos sangat baik, memberikan waktu salat dan pulang di sore hari. Biasanya toko lain pasti bekerja sampai malam, iya kan?” Reni tersenyum, memamerkan lesung pipinya yang cukup dalam.

“I-iya,” jawabku.

Ya, Reni memang beruntung. Ia bisa diterima kerja dengan pakaian yang tertutup. Padahal di tempat lain, selalu ada syarat harus melepas jilbab jika ingin bekerja. Syarat yang aneh memang. Walaupun aku tidak memakai jilbab, tapi aku tidak suka dengan syarat seperti itu. Bukankah setiap orang memiliki hak untuk menentukan pilihannya? Termasuk dalam berpakaian.

***

“Duh, lama amat sih,” keluh Reni sembari menatap jam tangannya.

“Nunggu siapa? Kita pulang bareng aja, yuk,” ajakku.

“Maaf, Shel. Aku enggak bisa. Sore ini aku harus mampir ke toko buku dulu.”

Aku mengangguk. Reni memang sering ke toko buku, membeli buku-buku islami untuk menambah wawasannya. Berbeda denganku yang selalu menghabiskan uang untuk membeli peralatan make up atau pakaian. Sebenarnya aku sedikit malu ketika berjalan bersama Reni, kami terlihat kontras. Reni dengan pakaian tertutupnya dan aku dengan pakaian sexy juga ketat.

Beberapa menit kemudian, sebuah motor berhenti di depan kami.

Seorang laki-laki bertubuh jangkung dengan kemeja berwarna biru lengan panjang dan celana kain di atas mata kaki turun sembari melepas helm miliknya.

‘Astaga! Ganteng banget!’ batinku.

“Maaf telat. Kamu udah nunggu dari tadi?” tanyanya.

“Enggak, kok. Yuk, kita berangkat sekarang,” ujar Reni.

“Oke.”

Aku hanya bisa melongo menatap Reni dan laki-laki itu. Siapa dia? Kenapa Reni bisa berboncengan dengannya? Setahuku Reni tidak pernah mau berboncengan dengan laki-laki yang bukan mahramnya.

“Shela, aku duluan, ya? Sampai ketemu besok.” Reni melambaikan tangannya padaku.

Aku langsung tersadar dari lamunan dan segera mengangguk sembari tersenyum.

Ah, Reni. Kau membuatku iri. Malam itu aku tidak bisa tidur. Masih terbayang-bayang wajah tampan dan pesona laki-laki bertubuh jangkung itu. Ingin rasanya aku mengirim pesan kepada Reni dan menanyakan siapa laki-laki itu sebenarnya, tapi tidak mungkin. Bagaimana jika laki-laki itu calon suami Reni? Atau pacarnya … mungkin? Ah, entahlah. Aku tidak ingin memikirkannya. Biar aku tanyakan langsung pada Reni besok.

***

“Ren, aku boleh nanya sesuatu enggak?” tanyaku hati-hati.

“Tanya apa?” Reni masih asyik menghitung uang di meja kasir.

“Cowok yang jemput kamu kemarin itu siapa?”

“Bang Rama maksud kamu? Dia saudara sepersusuan aku. Baru datang dari luar kota. Emang kenapa?” Reni menyipitkan mata, menatapku lekat.

“Cuma nanya aja kok. He he.”

“Ehem. Kayaknya ada yang naksir nih,” goda Reni.

“Apaan sih. Siapa yang naksir? Aku cuma penasaran aja.”

“Naksir beneran juga enggak papa kok. Kebetulan Bang Rama jomblo, lagi nyari istri. Hi hi.” Reni terkekeh geli.

“Eh seriusan kamu?” tanyaku spontan.

“Tuhkan bener, kamu naksir Bang Rama. Ha ha.” Reni menahan tawanya dengan tangan.

“Kalo kamu mau, aku bisa kenalin. Tapi ….”

“Tapi apa?” tanyaku penasaran.

“Bang Rama itu tipe laki-laki yang saleh. Jadi sudah sewajarnya dia mencari istri yang salihah juga atau setidaknya mau dibimbing ke jalan yang benar. Bang Rama memang tidak menyebutkan bagaimana tipe perempuan idamannya, tapi aku yakin dia mencari perempuan yang berhijab syar’i.”

Diam.

Jika tipe perempuan yang dicarinya seperti itu, jelas aku tidak masuk kriterianya. Aku sangat jauh dari kata salihah, jangankan syar’i, berhijab aku saja tidak.

“Shela … aku tau kamu dari dulu ingin menutup aurat kan? Hanya saja kamu belum siap. Tapi cobalah perlahan-lahan untuk belajar menutup auratmu itu. Sayang, jika tubuh indahmu dipamerkan pada semua lakilaki yang bukan mahram. Allah memerintahkan perempuan untuk berhijab pasti ada alasannya. Salah satunya adalah untuk menjaga diri, memuliakan, dan membantu laki-laki menjaga pandangannya. Hijrah memang enggak mudah, tapi Allah menjanjikan jalan keluar di setiap kesulitan. Bersama kesulitan pasti ada kemudahan.” Reni menatap dalam lalu memelukku erat.

Aku malu. Bertahun-tahun aku mengumbar aurat, merasa memiliki tubuh indah dan sexy, tapi aku tak sadar dengan dosa yang terus bertambah.

Selalu ada kata “Nanti” yang menjadi alasanku untuk tidak hijrah. Padahal masalah umur itu gaib, tidak ada yang tahu, bukan?

“Ren, boleh aku minta tolong?” Aku mengendurkan pelukannya.

“Apa?”

“Tolong ajari dan tuntun aku untuk menjadi perempuan sepertimu. Aku ingin mengenal Allah lebih dalam,” ujarku mantap.

“Masyaallah! Alhamdulillah. Iya, Shel. Aku pasti akan bantu kamu. Kita sama-sama berjuang mencari rida Allah, ya.”

***

Bagiku, Shela yang dulu telah tiada. Kini Shela yang baru telah lahir. Dengan kehidupan yang lebih baik, tentunya. Aku benar-benar berterima kasih karena Allah telah mengirimkan Reni untukku. Melalui dirinya aku bisa mengenal Allah, dan lebih dekat pada-Nya. Nikmat Islam dan sunah adalah nikmat yang hakiki.

“Assalamu’alaikum, Shel. Aku udah di depan stasiun nih. Bentar lagi sampe,” ucap Reni di ujung telepon.

Aku tersenyum tipis. Tak sabar rasanya untuk bertemu sahabat yang sudah setahun terpisah karena ia harus mengikuti suaminya di luar kota.

Ya, Reni menikah lebih dulu daripada aku. Semenjak itu kami hanya bisa berkomunikasi lewat sosial media.

“Wa’alaikumussalam. Iya, Ren. Cepetan ke sini. Aku udah enggak sabar pengin ketemu kamu,” jawabku.

Tok! Tok! Tok!

“Shela, temenmu udah dateng tuh.” Mama membuka pintu dan mengisyaratkan aku untuk keluar.

Lho? Sudah datang?

Cepat aku memutus sambungan telepon yang terdengar suara cekikikan di ujung sana.

“Shelaaa ….”

Reni menghambur ke pelukanku. Aku sedikit terkejut namun dengan cepat membalas pelukannya erat. Beberapa detik selanjutnya suara tangis bayi menyadarkan kami.

Reni melepaskan pelukannya lalu menggendong seorang bayi mungil berusia sekitar tiga bulan. Di samping Reni berdiri dua orang laki-laki. Suaminya, Rendra, dan ….

“Ehem.” Rendra, suami Reni membuka suara. “Sebenarnya kedatangan kami ke sini untuk menyampaikan hajat lain. Rama, sudah lama ia mempersiapkan diri. Dia ingin mengkhitbahmu, Shela.”

Aku bergeming. Darahku seketika berdesir. Bang Rama? Ya Allah, ternyata penantian dan doa yang selama ini kupanjatkan menjadi kenyataan. Kami memang tak pernah berkomunikasi sejak ia kembali melanjutkan pendidikannya di luar kota. Namun, doaku tak pernah putus untuknya.

“Shela?” Suara Reni membuyarkan lamunanku.

“Sebaiknya kita duduk dulu. Mungkin Shela masih kaget,” kata mama lalu mempersilakan mereka duduk.

“Shela bersedia!” ujarku lantang. Semua mata tertuju padaku, detik berikutnya mereka tertawa.

Ups! Sepertinya aku lupa untuk tetap bersikap anggun dengan hijab syar’i yang menempel di tubuhku.

 

Sambas, 30 Oktober 2018

Arsip Cerpen di Indonesia