Burung Siak di Lepau Seberang Jalan

“Oh, orang Selalang tho… Iya, nunggu hujan reda di sini saja, Mas. Minum anget-anget, hehe,” timpalnya sambil mengisap rokok. “Sampeyan di Jogja ngapain, Mas? Kuliah?”

“Iya. Ini kan lagi libur semester, jadi saya pulang.”

“Oh, gitu tho.”

“Em, saya pesan kopi panas dan mi rebus, ya, Pak!”

“Siap, Mas. Tunggu sebentar, ya.”

“Iya.”

Aku mengalihkan pandangan ke jalan. Anak kecil yang tadi bermain di kali sekarang asyik hujan-hujanan. Mereka menari-nari, tertawa, mendongakkan kepala sambil membuka lebar-lebar mulutnya agar air hujan masuk ke mulutnya.

Di dipan luar lepau, remaja berpenampilan preman itu sibuk bertelepon. Entah apa yang diobrolkan. Yang pasti, jari telunjuknya menuding-nuding seperti dai di teve, lalu dia ketawa-tawa.

“Ini, Mas, kopinya. Mi rebusnya tunggu sebentar ya.”

Bapak pemilik lepau mengalihkan pandanganku.

“Iya, Pak! Terima kasih.”

Secangkir kopi panas uapnya menyeruak ke hidung, membuat dingin hujan pagi ini terasa hangat. Aku mendadak merindukan suasana seperti ini: meminum kopi di tengah dinginnya terpaan angin dan hawa hujan, sambil meliha-tlihat kali, persawahan, dan perbukitan. Aku menyeruput kopi panas di meja. Rasa hangat dan manisnya begitu lekat di lidah.

Remaja yang tadi di luar lepau, tiba-tiba masuk dan duduk di sampingku. Dia tersenyum dan bertingkah baik kepadaku. Tak lama setelah dia duduk, bapak pemilik lepau membawa mi rebus pesananku.

“Ini, Mas. Monggo!”

“Wah! Enak ini, dingin-dingin gini sambil makan mi,” kata remaja di sampingku berseloroh.

“Iya, ini mari makan bareng,” jawabku canggung.

Bapak pemilik lepau dan remaja itu tergelak mendengarnya. Aku menyadari hal itu dan langsung mengabaikan dengan memakan mi rebus yang asapnya masih mengepul. Mereka mulai mengobrol. Aku menguping sambil sesekali ikut menyahutinya.

Arsip Cerpen di Indonesia