Aku bergegas keluar lepau. Kemudian menuju jalanan yang becek. Aku mempercepat langkahku karena gerimis cukup deras, bahkan bisa membuatku basah. Sampai di persimpangan jalan, aku menuju arah timur. Jalan setapak berbatu mengawali perjalananku menuju rumah. Aku berharap ada motor yang menuju ke timur, agar aku bisa menebeng sampai rumah. Memang tidak cukup jauh. Tapi kalau ditempuh dengan jalan kaki, rasa penat cukup terasa.
Aku hampir sampai di dukuhku. Dari tadi tiada motor satu pun yang melintas. Nasib! Kini, gerimis jatuh tipis-tipis. Langit pagi mulai cerah. Kawanan burung mengepakkan sayapnya. Aku mencoba mengamati, di mana si burung siak itu. Ah, kudongakkan lagi kepalaku cukup lama, tapi belum kelihatan juga.
Kualihkan pandangan ke persawahan luas. Petani mulai menggarap sawahnya setelah tadi dari gubuk. Tentunya untuk bernaung dari hujan. Anak-anak kecil berlari-lari di jalan membawa daun pisang, menaruhnya di atas kepala. Padahal gerimis sudah tidak terlalu deras.
“Kiak. Kiak. Kiak.”
Burung siak terbang di awan. Suara kaokan khasnya terdengar samar. Tapi aku melihatnya terbang dengan jelas. Dia baru saja dari timur, tepatnya dari arah desaku berada.
***
Ketika sampai di gang menuju rumah, kulihat dari jauh, rumahku ramai. Teratak dipasang. Kursi-kursi mulai disiapkan. Bapak dan dua adikku menangis tersedu. Mereka memandangku dengan tatapan sayu. Aku berjalan menghampiri mereka dan ikut menangis.
Kutub, 30 September 2018
M. Faizul Kamal, penikmat sastra dan penjual koran di sepanjang Jalan Malioboro, Jogja. Tulisannya pernah dimuat di beberapa media. Menjuarai Sayembara Cerpen Mitologi Indonesia kategori pelajar oleh IVET Semarang, nominasi karya pilihan di Lomba Cerpen Nasional dewan juri Ahmad Tohari, tamu undangan baca puisi Hari Santri 2018 di Jogja, dan puisi juga terkumpul di Suluk Santri (100 Penyair Islam).