Hikayat Tanjung Mampie

Erosi pantai yang hebat menyebabkan intrusi air laut ke dalam sumur-sumur warga. Sebagian besar warga kesulitan mendapatkan air bersih yang layak. Air payau hanya dipakai untuk mencuci baju dan membersihkan peralatan rumah tangga. Ini yang membuat Yusri, dan warga tak hanya risau karena kehilangan gugusan pantai, namun juga mengenai air buat diminum. Untuk menyegarkan kerongkongan dan kelangsungan hidup.

Kawasan itu tak hanya kehilangan garis pantainya. Namun juga sumur yang dahulu hampir dimiliki setiap rumah. Orang-orang harus memanggul air bersih dari kampung sebelah. Garis pantai tak hanya pelan-pelan menipiskan cara pandang warga pada masa depan mereka, namun perlahan-lahan serta menebalkan garis kemiskinan.

“Kalau kita telah kehilangan sebagian tanah, apakah kita juga akan kehilangan sumur kak? Air itu mahal,” gugat istrinya. Yusri merundukkan wajahnya. Ia seperti merenungkan jalan keluar. Dayanya tak kuasa melawan amuk lautan yang kian lama makin memanaskan suhu permukaan.

“Sabarlah, Dek. Laut itu tak pernah keliru. Mungkin yang kurang ramah menjaga pantai adalah kita. Jika kita kelak harus kehilangan tanah juga air, semoga orang-orang di luar sana tidak akan kehilangan rasa cinta.” Ada buncah yang hampir saja menganak di kornea matanya. Tapi seorang lelaki tak boleh menangisi takdirnya. Ia menahan kesedihan yang hampir pecah.

Ia sekali lagi menyeruput kopi buatan istrinya. Air legam itu melewati tenggorokannya. Pahit.

***

Ia menggeber motor bututnya. Meliuk di antara pohon-pohon kelapa tersisa. Melewati setapak menuju tanjung, melampaui tatapan orang-orang yang selama ini menggantungkan sejumput harap di bahu Yusri. Ia membonceng tukang gali sumur yang dinantinya beberapa hari. Sesekali ia melambaikan tangan pada anak-anak yang mengejar-ngejar motor tua warisan ayahnya.

Arsip Cerpen di Indonesia