Lelaki yang Nekat Memesan Makanan

Sesekali mulutnya terdengar mengecap karena saking semangatnya mengunyah makanan. Butiran keringat turun perlahan dari pelipisnya. Pedasnya sambal ajaib membuat nafsu makannya semakin bertambah. Belum lagi rasa rendang yang menurutnya unik dan khas masakan Minang Kabau itu memang perlu diajungi jempol. Ia sudah tidak meragukan lagi rasa rendang yang dipesannya.

Nasi dan lauk-pauk sudah ludes. Pindah ke dalam perutnya. Menyisakan piring plastik yang di atasnya berserak sisa sambal karena perutnya tidak lagi kuat menahan rasa pedas yang ditawarkan. Diseruputnya es teh yang tadinya dibiarkan menguap. Napasnya tak beraturan lantaran menahan pedasnya sambal ajaib yang membuatnya ketagihan untuk memesan makanan di Pondok Salero.

Direbahkan punggungnya ke dinding kursi plastik. Perut yang kenyang telah membuatnya lupa tentang uangnya yang kurang untuk membayar makanan yang barusan dipesan.

Kipas angin yang tergantung di langit-langit ruangan menawarkan hawa sejuk yang mengantarkannya ke alam mimpi. Matanya yang semakin lama terasa berat untuk tetap terbuka akhirnya tertutup rapat. Ia tertidur dalam keadaan kenyang. Tak sadar jikalau sedari tadi pemilik warung terus mengamati gelagatnya dari balik meja kasir.

Seorang lelaki yang berumur lima puluhan memanggil salah seorang karyawannya. Ia kemudian membisikkan sesuatu sembari melirik ke arah Fadil yang sedang tertidur sambil memeluk perutnya sendiri.

“Tolong bangunkan Bapak yang tertidur di meja paling pojok. Kasihan pembeli lain yang tidak mendapatkan tempat duduk.”

Pelayan itu mengangguk. Pelan sekali kakinya melangkah menuju bangku paling pojok. Dilihatnya sosok yang sudah beberapa kali membeli makan di tempatnya bekerja. Mulanya pelayan itu membereskan piring dan juga gelas bekas makanan yang dipesan Fadil. Ia semakin ragu hendak mengusir pemuda yang tampaknya miskin itu dari warung. Menurutnya, di luar itu panas. Belum lagi polusi udara yang ditimbulkan oleh asap kendaraan yang hilir-mudik, memadati jalan.

“Pak, mohon maaf sudah mengganggu,” ujar pelayan sembari menepuk-nepuk pelan pundak Fadil.

Fadil yang merasa pundaknya disentuh orang lain segera membuka mata. Mendapati pelayan yang mengenakan kemeja putih dengan bawahan celana hitam polos. Ia memakasakan diri untuk tetap tersenyum.

Arsip Cerpen di Indonesia