Lelaki yang Nekat Memesan Makanan

Sebisa mungkin menutupi kegelisahan yang melanda hati karena uangnya tidak cukup untuk membayar makanan yang telah dipesannya. Andai saja, ada uang jatuh milik pembeli lain mungkin ia akan senang bukan kepalang. Tak perlu lagi memikirkan bagaiamana dan dari mana bisa mendapatkan uang sepuluh ribu untuk menambal uangnya yang kurang itu.

“Totalnya tiga puluh ribu rupiah, ya, Pak. Silakan membayar di kasir. Tempat duduk ini sudah dipesan pembeli berikutnya,” kata pelayan berlalu pergi setelah menyodorkan selembar kertas yang berisi kumpulan angka yang harus dibayar oleh Fadil di meja kasir.

Fadil semakin bingung dibuatnya. Wajahnya semakin pucat karena takut pemilik warung akan menghukumnya setelah tahu uangnya tidaklah cukup untuk membayar apa yang telah dimakannya barusan. Dirogohnya saku celana untuk mengeluarkan uangnya yang sudah digulung rapi menjadi satu.

“Kurang tiga belas ribu lagi,” desahnya lirih.

Sekilas ia menangkap raut muka tidak bersahabat dari seorang lelaki yang berdiri di belakang meja kasir. Tatapannya begitu galak, sorot matanya semakin memelototi Fadil dengan buasnya. Hal itu menjadikan keberanian yang selama ini Fadil gembor-gemborkan hilang dalam sekejap mata. Berganti dengan kedua kakinya yang gemetar menopang tubuhnya sendiri.

“Maaf, Uda. Demi mengurangi antrean pelanggan kami, silakan Uda membayar tagihan di meja kasir.”

Segera Fadil tersadar dari lamunannya memikirkan segala hal buruk yang sebentar lagi akan menimpa dirinya. Pelan sekali kakinya melangkah menuju meja kasir. Ia sengaja mengulur waktu lebih lama supaya bisa menarik napas guna menguatkan kembali mentalnya yang mendadak lumpuh, tak berdaya.

Menundukkan wajah merupakan satu-satunya cara untuk menutupi kegelisahan yang sedang melanda. Ia tidak mau para pelayan dan juga petugas kasir mendapati dirinya sedang gugup karena uangnya tak cukup untuk membayar makanan yang telah masuk ke dalam perutnya.

Ketika menunduk itulah tanpa adanya unsur kesengajaan, Fadil melihat selembar uang seratus ribuan tergeletak di lantai keramik tak jauh dari tempatnya makan tadi. Segera ia menoleh ke kanan dan kiri, depan dan belakang secara bergantian. Dilihatnya pelanggan yang sedang menyantap makanan yang mereka pesan. Mereka terlihat bahagia sekali. Sedangkan Fadil basah oleh keringat. Gemetar kakinya menarik selembar uang seratus ribuan yang kehilangan tuannya itu. Sebisa mungkin Fadil menyembunyikan gelagat anehnya supaya tidak ditegur oleh pelayan yang tengah sibuk mengantar pesanan.

Arsip Cerpen di Indonesia