Penjual Nyawa

Saya memilih duduk di trotoar. Menikmati lalu lalang pengendara jalan. Mereka tampak bahagia. Dengan mobil dan motor mereka. Duduk berpasangan. Berbeda dengan saya.

“Mau minum, Mas?”

Mbak Wina, wanita setengah baya, duduk di samping saya. Di tangannya tergenggam tongkat sapu. Dia juga bekerja sebagai tukang sapu jalanan. Di tangan satunya, ada tas plastik yang berisi bekalnya.

“Boleh,” jawab saya.

Saya perhatikan gerak-gerik Mbak Wina yang tengah menuangkan air mineral ke gelas plastik. Janda beranak dua ini memang baik pada saya. Tiap hari tidak lupa menawari saya untuk minum. Gosip dari rekan tukang sapu jalanan yang lain, Mbak Wina menaruh hati pada saya. Benarkah itu? Mbak Wina sendiri belum pernah menyatakan suka pada saya. Mungkin saja dia menunggu saya untuk lebih dulu menyatakan cinta. Kata ayah saya, itu adalah ego seorang wanita.

Jika itu benar, saya akan menolak Mbak Wina. Saya tetap memiliki ego seorang lelaki. Saya lelaki perjaka dan berharap mendapatkan wanita perawan juga. Apalagi dengan kondisi Mbak Wina yang mempunyai dua anak. Pasti sangat berat bagi saya untuk membiayai hidup mereka.

“Ini, Mas Ramdan,” ucap Mbak Wina.

Saya menerima gelas plastik yang telah terisi oleh air mineral. Saya habiskan dalam satu kali teguk.

“Saya pamit pulang dulu, ya. Kasihan anak saya di rumah.”

Saya mengangguk. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih. Kepergian Mbak Wina kembali mengisi hati saya yang kosong. Perasaan hampa selalu saya rasakan setiap sendirian. Saya bosan. Bosan untuk hidup.

“Anda ingin menjual nyawa?”

Pertanyaan aneh dilayangkan untuk saya. Seorang lelaki setengah baya dan memakai pakaian serbaputih berdiri di hadapan saya. Siapa dia?

“Apa maksud Bapak?” tanya saya.

“Anda kelihatan bosan untuk hidup. Juallah nyawa Anda pada saya. Sebagai imbalannya, saya akan memberikan surga.”

Arsip Cerpen di Indonesia