Perempuan yang Kembali Mati pada Pagi Hari

Hujan hendak berhenti. Sementara di sebelah kiri jalan ke arah barat, aku melihat sesuatu berjalan. Makin lama kian dekat. Namun aku tercengang oleh anjing buduk berjalan pincang. Badannya sangat kurus. Matanya terpejam sebelah. Kulitnya yang banyak bopeng oleh luka tampak belum kering sepenuhnya. Warna bulu cokelat kombinasi merah yang basah akibat air hujan itu begitu menyedihkan.

Anjing itu tertatih-tatih melewati toko-toko dan bangunan-bangunan. Delina hampir satu jam menunggu hujan reda. Aku menatap. Ia menatapku mengiba, seraya menggonggong pelan. Pelan sekali. Seperti mengatakan ia makhluk paling menderita yang diciptakan Tuhan di muka bumi ini. Aku menduga, itu pasti ulah warga kampung yang tidak suka anjing. Aku benar-benar tidak suka pada engan warga kampung yang sok suci. Padahal, anjing juga makhluk Tuhan yang berhak dihargai.

Aku mengikuti langkah anjing itu. Sebenarnya aku tidak bermaksud membuntuti anjing itu. Lama-kelamaan aku kasihan melihat langkah anjing itu yang terhuyung-huyung. Tampak berat. Hujan sepenuhnya reda. Memasuki waktu fajar, aku tiba di sebuah gang kecil kumuh dan kotor dan masuk ke sebuah lorong kecil, gelap tetapi ada tepias cahaya lampu yang bisa menembus. Aku tertarik pada engan anjing itu, sampai aku rela mengikuti anjing penuh bopeng luka itu. Di sebuah tempat yang gelap, kotor, dan bau, aku mendapati empat ekor anak anjing baru berumur tiga hari atau empat hari di dalam kardus.

Aku makin iba pada anjing dan empat ekor anaknya itu. Aku baru mengerti, anjing itu induk yang mencari makan untuk mengisi air susu yang akan diberikan ke empat ekor anaknya yang mungil sekaligus terancam kelaparan. Anjing itu berusaha melompat ke atas kardus bekas penyedap rasa makanan. Pelan. Ia melihatku. Kaki depan kanan anjing itu patah di pergelangan telapak kaki, sehingga ia harus melompat dengan ketiga kaki.

Dalam gelap, aku melihat, suara napas ringkih. Berat. Beberapa cuitan kelelawar terdengar, terbang ke sana- kemari. Terdengar suara menggema dari benda jatuh. Jantungku menggedor. Ada yang menyentuh mata kakiku, menggelitik. Spontan, aku meronta, geli. Setelah aku lihat ternyata dari pencahayaan yang buruk, seekor tikus mengendus mata kaki. Aku merasa, tempat ini benar-benar menyedihkan.

“Untuk apa kau datang ke tempat ini?” Suara itu tiba-tiba datang dari kegelapan ruang. Suara itu begitu lirih dan menyeramkan. Aku makin takut. Aku meraba-raba tembok dan tidak ingin mencari sumber suara itu.

“Siapa kau?” tanyaku, berusaha melawan rasa takut.

Arsip Cerpen di Indonesia