Sesosok wanita muncul dari kegelapan. Berjalan perlahan, menghampiriku dengan bantuan tongkat. Wajahnya tidak jelas, karena gelap. Ketukan tongkatnya terdengar jelas.
“Siapa kau?” tanyaku lagi.
“Apa yang kau lakukan di tempat ini, wahai pemuas lelaki hidung belang?”
“Aku hanya mengikuti anjing itu karena kasihan padanya. Dan, akhirnya anjing itu membawa aku ke tempat ini. Apakah anjing itu peliharaanmu?”
Malam berangsur-unsur memudar. Beberapa ayam jantan berkokok. Suara ceracau burungburung menyambut pagi. Suara wanita itu lenyap bersama bayangnya. Delina memanggil-manggil wanita itu. Sinar matahari condong bersinar dari arah timur, merah kekuning-kuningan. Delina mendekat ke arah anjing itu. Induk anjing mendekap anak-anaknya.
Anjing-anjing itu tampak gelisah. Menggelendot ke selangkangan, menyusur bagian tubuh, mencari puting induk. Cahaya pagi menembus sela-sela genting bocor. Di tempat ini hanya ada cericitan tikus dan kelelawar, serta lengusan anak-anak anjing. Tak lebih dari itu. Perihal ada wanita tua yang lenyap ditelan gelap tadi, aku masih menyimpan rasa janggal. Dari mana asal wanita yang tidak tampak wajahnya itu? Dan, dari mana ia masuk ke ruangan ini?
Induk anjing itu tak bergerak sama sekali. Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya, tetapi tak ada gerakan. Tubuhnya dingin. Aku curiga. Memang benar, apa yang aku takutkan benar terjadi. Anjing itu tewas, mendekap anak-anaknya. Inilah keadaan yang menyedihkan bagi empat ekor anak anjing itu. Aku iba. Aku ingin merawatnya, membawa pulang ke rumah sebagai hewan peliharaan.
Di tempat itu, ada beberapa ruangan. Aku berjalan bergegas keluar dari tempat itu. Namun aku menaruh perasaan penasaran terhadap salah satu ruangan yang begitu menarik perasaanku. Ya, ruangan misterius itu. Ruang yang penuh sarang laba. Ruang kedap udara.
Aku masuk ke dalamnya, membawa kardus berisi empat bayi anjing. Sementara bangkai sang induk, aku biarkan di lantai. Aku meletakkan kardus itu. Ada sebuah peti jenazah. Aku melihat dari ke jauhan. Aku mengendap seperti mengintai target buruan. Ada banyak alat laboratorium. Tabung reaksi, elenmeyer, gelas ukur tampak membeku. Buiret dan fortex juga. Beberapa larutan NaCl dan buffer terletak di atas meja. Aku terus menyusuri, menuju peti jenazah itu. Penasaran. Perlahan aku membuka tutup peti itu. Agak berat. Aku terkejut, ketika mataku mendapati perempuan tua itu ada di dalamnya. Pucat pasi. Sembujung, tangan tertelungkup, mata terpejam. (28)
Anas S Malo, lahir Bojonegoro, belajar di Universitas Nahdhlatul Ulama Yogyakarta. Sekarang aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Karyanya tersiar di berbagai media.