Tidak! Aku ayah dua anak. Harus tegar. Tak boleh ada air mata yang menetes. Tak boleh marah-marah tak karuan.
Baiklah, untuk melupakan rasa sakit, aku akan mencoba tiduran, kali ini kembali ke ranjang, berbantal lengan kiri dan bantal. Mata dipejamkan.. Namun mataku terbuka terpejam, menahan derita. Nyut-nyut. Rasa sakit dapat mengalahkan kantuk. Sia-sia saja untuk tidur. Sepasang mataku tetap terbuka.
Tiba-tiba aku teringat cicilan motor matik sudah terlambat dua hari. Tadi siang ada WA. “Angsuran Saudara sudah terlambat dua hari. Mohon dilunasi.” Owh. Gigi ini terasa semakin sakit. Mencoba abai, bangkit, berjalan-jalan di selingkungan rumah dengan tangan tetap melekat di pipi. Dan, ketika melewati lemari pendingin tempat tart itu bersemayam, owh, owh..! Kini jam sudah berpindah angka. Rasa sakit tak sudi pergi. Aku menyerah. Harus minum obat. Dengan lembut, istri yang tengkurap dibangunkan. “Ada apa?” “Gigi sakit. Aku mau ke grosir di pangkalan ojek dulu yang buka 24 jam.” “Ya hati-hati.”
Motor melaju perlahan. Udara dingin malam menyentuh tengkuk, juga ke sumsum tulang gigi yang berlubang. Nyelekit. Untung saja malam itu, bukan malam Jumat. Di pertigaan keempat ada pemakaman lokal. Kata tetangga sekitar, di benteng tembok sering ada penampakan. Wanita bergaun putih kerap kali duduk-duduk bersantai. Tapi yang melihatnya tentu saja tidak bisa bersantai kan? Biasanya langsung berlari secepat-cepatnya. Lalu setiap melewati polisi tidur adalah goyangan derita. Di satu pertigaan, udara malam itu kali ini menembus sampai ke akar gigi. Owh..
Di pertigaan itu, di tepi jalan pinggiran kota, api unggun sedang menyala. Beberapa tukang ojek butuh hangat. Pelayan toko pria bujangan meladeniku. Di satu jam setelah pergantian hari, matanya terlihat lelah. Sekalian aku beli 4 kaplet. Hampir saja amarah meledak ketika dia berguyon menawari es krim. Bisa semakin menjadi rasa sakit ini. Ada salah satu tukang ojek yang mendoakan. “Semoga cepat sembuh..”
Kembali tiba di depan rumah, pintu terkunci. Nyelekit itu datang lagi. Mauku istri yang membukakan pintu, sebagai sambutan hangat. Agar sakit tak begitu terasa. Aku tak mau mengetuk. Terpaksa aku yang membuka. Istri sedang tertidur di kamar. Dan sebelum minum obat, aku terbiasa makan nasi dulu biarpun seperempat piring. Satu kaplet sudah masuk ke dalam perut. Lalu berharap keajaiban, obat ini bisa melumat sakit. Agar tak ada aduh-mengaduh lagi. Kini rebahan di kursi ruang tamu. Sandaran kursi menjadi alas kepala. Dengan lengan kiri tetap menempel di pipi. Mencoba memejamkan mata. Beberapa saat merasakan nyaman, namun masih terjaga. Pekerjaan kantor yang belum beres, cicilan motor yang terlambat dibayar, kembali berkelebat. Owh. Datang lagi itu.