Jam berpindah angka lagi. Suara bertalu-talu di gigi tak juga pergi. Malah kini ada pening di kepala. Owh. Kiranya sakit gigi ini yang terparah. Obat warung kurang membantu meredakan. Pandangan mataku nanar. Lalu tertuju ke balon-balon yang menggantung. Tapi seakan memberi saran baik. “Bukankah biasanya kau cocok memakai obat berbentuk plester di pipimu?”
Aku pikir ini yang kutunggu. Merasa bodoh sendiri. Kenapa tadi tidak sekalian membeli? Itulah sakit gigi, bisa lupa diri. Penuh semangat kembali mengeluarkan motor. Menembus dingin malam, tak peduli misalnya nanti bertemu dengan yang bergaun putih pucat yang suka bersantai di tembok pemakaman.
Setelah plester berpindah tangan, langsung saja ditempel di pipi kiri. Hangat meresap. Dalam perjalanan pulang, ya mendingan. Adem. Walaupun nyut-nyut tidak hilang semuanya. Iramanya itu, tak seperti awal mula ketika mulai terasa.
Sudah satu pertiga malam. Belum juga tidur. Bagaimana bisa tidur?
Pipi kiri padahal sedari tadi didekapkan erat ke bantal. Lumayan dapat meredam rasa sakit. Bertekad harus bisa tidur. Sekarang sudah masuk hari Senin, pagi-pagi harus bekerja. Kiranya karena kelelahan menahan sakit, lalu tak ingat apa-apa.
Dan sampailah ketika tubuhku merasa bergoyang. Yang kemarin berulang tahun membangunkanku. Gadis kecil. “Sudah siang. Pukul delapan.”
“Ayah maafkan bila kue ulang tahun yang kemarin menjadi penyebab sakit gigi.” Wajahnya sedikit memelas.
“Tahu dari Ibu?”
“Iya.”
Tidak apa-apa. Memang salah Ayah juga. Tak berhenti mengemil.” Yang berulang tahun merangkul pinggangku.
“Kuenya masih ada kan? Di lemari pendingin?” Tanyaku.
Anakku dan istri saling pandang. Termangu. Buru-buru aku meralat. “O tidak, Ayah tidak menyalahkan kue tart itu..” Anak kecil bila disudutkan berakibat tidak baik. Lagi pula aku tak ada niat. Terlebih ini, di salah satu momen terbaiknya.
Istri dan anak menyarankan agar izin tidak masuk bekerja. Aku bertahan hendak tetap memaksakan. Istri ngambek, anak memohon. Aku mengalah. Memang seyogiyanya mendingan beristirahat, kalau sedang sakit gigi sedang berkurang konsentrasi, bila memaksakan bisa fatal akibatnya: bagaimana kalau nanti sering salah mengetik angka.
“Owh!” Tiba-tiba sakit itu hadir. “Tolong ambilkan obat perekat sakit gigi. Aku akan menggantinya dengan yang baru.”