Elegi Ampas Kopi

Garda tertunduk. Bibirnya gemetar, ingin mengucap kata, tapi diurungkan. Dia mengambil kertas dan pulpen. Lalu menggambar. Ada wajah laki-laki tua yang diberi tulisan “ayahku”, ada gambar kebun kopi, ada sepatu lars dan senapan. Lalu coretan-coretan gambar wajah sedih perempuan (dia tulis kata “ibuku”).

“Kebun kopi kami dirampas mereka. Ayahku diculik dan hingga kini tidak kembali. Mereka menuduh ayahku terlibat dalam pemberontakan partai terlarang… Ibuku menangis sepanjang hari, sepanjang waktu…” Bibir Garda bergetar. Menggetarkan udara sekitar.

Tangan Mila menggenggam erat tangan Garda. Tubuh mereka membeku. Mata mereka basah.

Kami, bangsa kopi yang berdiam dalam negeri cangkir, tertunduk takzim. Kini kami tinggal ampas. Adonan residu ngilu, sehabis dihajar air panas dengan suhu sangat tinggi. Kami pun membeku di dasar cangkir itu. (*)

 

Indra Tranggono. Sastrawan dan pemerhati budaya asal Jogjakarta. Kumpulan cerpennya, Iblis Ngambek yang terbit pada 2003, mencuri perhatian penikmat sastra Indonesia.

Arsip Cerpen di Indonesia