Cerpen Indra Tranggono (Jawa Pos, 27 Januari 2019)

SEKARANG kami hanyalah adonan ampas kopi. Tak ada lagi puja-puji lewat lagu atau lirik puisi. Kami tak lebih dari residu yang ngilu dirajam air mendidih tinggi suhu. Dibuang pun hanya menunggu waktu….
Ke mana para pencinta kopi itu pergi membawa seluruh kekayaan cita rasa kami? Apakah mereka di rumah menyeduh kami menjadi puisi? Lalu tersaji secangkir kopi hangat yang terbuat dari remahremah rindu dan dipersembahkan bagi kerabat, handai tolan, dan kekasih.
Pagi itu kami bangsa kopi kembali bertemu dengan seorang penyair. Bangun agak kesiangan setelah semalam suntuk beribadah puisi, dia mengambil cangkir, menciduk kopi dan gula, lalu mengucurkan air panas.
Penyair itu tak pernah membayangkan betapa pedihnya tubuh-tubuh kami diguyur air mendidih 100 derajat Celsius dalam cangkir mungil itu. Tanpa permisi, genangan air panas itu menghajar setiap butiran kopi kami hingga hancur dan menjelma jadi bubur. Lalu mereka pun tanpa ampun mengisap dan melebur jiwa rasa kami. Maka, ketika engkau mencium aroma sedap harum uap kopi, sadarlah bahwa yang kaucium itu sesungguhnya jeritan jiwa kami.
Sejarah bangsa kopi adalah sejarah penderitaan. Begitu nenek moyang kopi pernah bilang. Ya, penderitaan. Kami yang semula memiliki kedaulatan sebagai pohon harus rela ketika buah-buah kami dipetik para petani. Sangat menyakitkan ketika buah-buah kami yang menyatu dengan tubuh kami harus diambil paksa. Bayangkan jika hidung, daun telinga, atau apa saja yang tumbuh di tubuhmu mendadak direnggut. Sakit. Sangat sakit.
Ternyata itu baru penderitaan awal. Buah-buah kami pun dikuliti, lalu dijemur berhari-hari hingga kering. Setelah itu kami harus menghadapi panasnya wajan penggorengan ketika tubuh-tubuh kami disangrai. Kami pikir penderitaan itu sudah selesai. Ternyata kami pun harus tabah untuk digiling atau ditumbuk. Tubuh kami remuk. Jiwa kami hancur. Kami menjerit, tapi jeritan kami dilibas deru mesin penggiling atau talu besi penumbuk. Ya Tuhan, kenapa Engkau harus menciptakan manusia yang begitu kejam? Rasanya kami ingin mengundurkan diri dari bangsa kopi. Mendengar jeritan kami, Tuhan hanya tersenyum. Kami pun paham. Kami harus tetap teguh menjadi bangsa kopi, selamanya. Dan harus melanjutkan episode-episode penderitaan kami.
***