“Yah kalau mau jadi menantu saya, yah! Kamu harus menjadi PNS agar saya bisa tenang melepaskan anak gadisku kepadamu.”
“Maaf, Pak. Saya rasa dengan menjalankan usaha ini sudah cukup untuk menafkahi dan menghidupi anak Bapak. Lagian juga saya tidak cocok deh menjadi seorang PNS.” Kataku kepada ayah kekasihku.
“Usaha kedai kopimu tuh kurang menjanjikan, penghasilannya tidak tetap, mending kamu jadi PNS saja apalagi saya dengar dari putriku kamu itu sarjana pendidikan. Nah mumpung pemerintah membuka pendaftaran CPNS, kamu daftar saja. Sayang sekali loh gelar sarjana pendidikanmu itu dianggurin. Kamu tinggalkan saja usahamu itu, saya ngebet banget lho punya mantu seorang PNS.”
Saya hanya menghela napas panjang mendengar penuturan ayah kekasihku itu. Selama perjalanan pulang dari rumahnya, ada pergolakan batin yang menerpa diri ini, antara tetap menjadi seorang barista dan mengelola kedai kopi yang penghasilanna tak seberapa, atau bersikap realistis atas kenyataan bahwa ayah kekasihku mengharapkan menantu seorang PNS dan di sisi lain juga memenuhi keinginan ayah kandungku.
Baiklah! Semoga apa yang kupilih telah menjadi jalan yang baik. Kuyakinkan diri ini setelah puas mengingat-ngingat kejadian yang telah kulalui itu. Kini sepasang bola mataku menatap sebuah angka yang tertera di sudut kanan layar laptop, di sana angka tersebut sedang berjalan mundur dengan pasti….
Bismillah….
Klik…!
Di Kedai Kopi di Sudut Kota Sungguminasa, 17 November 2018
Ilyas Ibrahim Husain, adalah nama pena dari Adil Akbar. Alumni Pendidikan Sejarah UNM ini lahir di Sungguminasa, Kabupaten Gowa pada 06 April 1993.