Entahlah. Tapi malam itu Maryam akhirna meminum pil itu juga. Tentu saja dengan tergesa bagai orang sedang dahaga yang tak sabar untuk secepat mungkin memindahkan air dalam gelas ke dalam perutnya. Ia terus memikirkan ketololannya percaya begitu saja pada tukang obat, pada sebuah pil yang konon bisa menyembuhkan kesedihan di hatinya. Di luar apartemen angin berdesir pelan, menyisir kaca kaca jendela. Maryam melihat malam yang begitu lindap. Soal bunuh diri barangkali bisa dilanjutkan esok hari, pikir Maryam sebelum akhimya berhasil memicingkan matanya, lelap di atas ranjang yang basah oleh air mata.
***
MARYAM tergopoh-gopoh berjalan di atas trotoar. Sedikit terlihat agak ringkih. Beberapa bagian rambutnya mulai berganti putih. Tapi gigi giginya masih tampak lengkap, sehat, dan rapi. Kulitnya juga tak keriput sebagaimana orang uzur kebanyakan. Dan terpenting, tak pernah lekang di bagian bibirnya selalu menampilkan simpul senyum yang begitu manis, terkadang menggoda orang yang melihatnya untuk ikut tersenyum. Bukankah senyum itu tanda bahagia?
Kesedihan itu telah berlalu lebih dari seratus tahun yang lalu. Kau boleh tidak percaya pada usiaku ini, ujar Maryam kepada seorang gadis yang sedang duduk santai di kursi taman kota. Namun sepertinya tak ada yang percaya. Mana ada orang berusia seratus enam puluh tiga tahun masih bisa berjalan normal. Tidak bungkuk. Berkulit terang. Bergigi rapi dan putih.
Bertahun-tahun Maryam terus mencari orang yang mendengarkannya. Meski pada akhirnya itu hanya kesia-siaan belaka. Ia ingin berterus terang kepada semua orang bahwa yang menyebabkan ia tampak awet muda hanyalah sebuah pil pemberi rasa kebahagiaan. Pil itu telah diminumnya beratus tahun yang lalu, saat ia merasa begitu terluka oleh seorang pria tampan yang bisa disebut sebagai kekasihnya.
Kekasihnya itu pergi tanpa meniberi tahu Maryam. Kepergian tanpa kata-kata perpisahan itulah, atau bisa juga dinamai dengan kepergian tanpa alasan, membuat Maryam amat terpukul. Banyak hal yang kemudian direka oleh pikiran Maryam. Bahwa jangan-jangan pacarnya itu telah menemukan perempuan yang lebih cantik dari dirinya. Dan lantas perempuan cantik itu menggodanya, lalu pacarnya tiba-tiba saja tertarik untuk jatuh cinta. Lalu terjadilah hubungan tak wajar di antara mereka. Perselingkuhan itulah yang menyebabkan pria tampan yang menjadi pacarnya itu meninggalkannya tanpa alasan. Sakit. Tapi bisa jadi bukan karena selingkuh, gumam Maryam kepada dirinya yang sedang sepi. Bisa saja pacarnya pergi karena tidak ingin diganggu dan konsentrasi dengan pekerjaan yang sedang dicarinya—sejak lulus kuliah dan mendapatkan gelar sarjana ekonomi, pacarnya diketahui tak kunjung mendapat pekerjaan, dan hal itulah yang membuat orang tua Maryam geram sehingga berulang kali merasa harus memisahkan anak gadisnya dengan pacarnya yang pengangguran itu. Atau boleh jadi karena ada alasan lain. Entah apa.