Dari gadis periang, Maryam jadi pemurung. Saat sedang berada di kantor, ia lebih sering terlihat memainkan bolpoin dan sesekali menggigit gigit kukunya sepanjang hari. Kadang kadang beranjak dari tempat duduknya lantas berdiri di dekat jendela, memandang kosong Kota Bandung yang mulai sumpek.
Berkat pil kebahagiaan itu Maryam menjadi sangat bahagia. Kalau tidak, ia bisa melaksanakan rencananya terjun bebas dari ketinggian yang tidak main-main. Jika bukan karena pil itu, kepalanya mungkin bakal pecah di jalan raya, dan akan dimainkan anak anak kecil yang mulai bosan dengan permainan di gadget-nya. Maryam tentu saja ingin sekali berterima kasih pada penjual obat keliling itu. Namun ia berpikir, barangkali penjual obat itu kini sudah meninggal karena ratusan tahun telah berlalu.
Orang tuanya, rekan-rekannya, dan atau siapa saja yang ia kenal di waktu muda, kini telah meninggalkan kefanaan dunia. Maryam merasa hidupnya mulai berada di ambang kesepian yang akut. Lamat-lamat ada rasa cemas menghampiri kebahagiaannya. Ternyata rasa bahagia pun ada bosannya, pikir Maryam. Sebagaimana dulu, Maryam ingat betul bahwa ia ingin sekali berusia panjang. Tapi apa yang terjadi ketika justru Tuhan mengabulkan harapannya ketika usia panjang itu telah digenggamnya? Usia panjang malah membuat Maryam tiba tiba saja merindukan sekali yang namanya kematian. Barangkali seperti itu pula dengan kebahagiaan yang terlampau panjang dirasakannya. Ada saat ketika ia amat muak dengan rasa bahagia. Perlahan-lahan kesedihan menyeruak di tengah-tengah rasa bahagianya itu. Tentu saja aneh dan konyol.
Maka Maryam dengan segala daya dan upaya merencakan hal tolol yang dilakukannya waktu muda dulu, yakni terjun bebas dari lantai yang bahkan kini dipikirnya harus lebih tinggi dari rencana sebelumnya. Baginya, dengan begitu ia mampu menghilangkan dua penyebab kesepian di titik terjenuh dalam hidupnya: usia panjang dan rasa bahagia yang sulit hilang. Dengan begitu ia merasa bahwa kesedihannya yang justru sangat dirindukannya akan kembali, meskipun hanya bisa dirasakan ketika ia sudah mati. Ini pula yang mendasarinya bahwa bunuh diri tak selamanya karena alasan kesedihan dan penderitaan. Kebahagiaan yang panjang pun bisa membuat seseorang frustrasi hebat. (*)
Rai Sadajiwa lahir di Subang pada 11 April. Suka menulis prosa dan puisi. Karya-karyanya dimuat di sejumlah media.