Sureng

Sureng rasa-rasa ingin mati. Ia begitu lelah. Siku kakinya kini sering nyeri karena terlalu banyak beraktivitas. Ia kadang menyalahnyalahkan Tuhan, kenapa ia tak diberikan seorang anak. Jika ada anak, tentu ia tak selelah saat ini. Dasima sendiri kian hari kian kurang ajar kepadanya. Dengan modal mulut, terus saja menyuruh Sureng melakukan ini dan itu.

Sebenarnya, seperti Sureng, Dasima pun merasa lelah dengan kehidupan. Rasa iri menumpuk di dadanya pada orang-orang seusianya yang mempunyai anak. Ia ingin hidupnya pun enak. Tidak melakukan apa-apa. Di tempat tidur, Dasima sering membayangkan betapa bahagianya ia di masa tua jika punya anak. Oleh karena itu, Dasima menganggap jatuh di kamar mandi adalah berkah. Ia bisa berbaring enak tanpa harus melakukan apa-apa.

Sementara Sureng terus berpikir di tengah kelelahan. Berpikir bagaimana caranya agar ia tak lagi dikendalikan oleh istrinya itu. Ia terus berpikir. Semakin berpikir semakin ia sakit hati.

Pagi itu, Sureng duduk tanpa alas di depan rumah. Beberapa saat setelah menyapu halaman rumah. Sinar matahari yang lolos dari rimbun dedaunan pohon mangga di pojok halaman rumah menerpa wajahnya. Lalu ia melihat seorang petani bercaping lewat di depan rumahnya sambil menenteng sebilah celurit.

Sureng tersenyum. Ia seperti pengarang yang menemukan ide cemerlang. Otak Sureng menjadi tidak waras. Setan berhasil bergelayut di sana. Sureng akhirnya menemukan solusi agar Dasima tak seenaknya lagi mengendalikan dirinya. Gayung bersambut, terdengar suara panggilan dari Dasima. Sureng beranjak dari duduk, menuju dapur.

Di dapur, sorot mata penuh dendam itu bergerak ke kiri dan kanan. Mencari sesuatu. Sureng tersenyum saat benda ia cari tampak terselip di antara botol-botol bumbu. Ia mengambil dan menimang sebentar benda itu. Sebilah pisau. Sesaat kemudian, Sureng melangkah ke kamar.

 

Bantul, 2018

Risen Dhawuh Abdullah. Lahir di Sleman, September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Buku perdananya, kumpulan cerpen Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015. Anggota Komunitas Jejak Imaji. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

Arsip Cerpen di Indonesia