“Memangnya kamu merasakan kesialan apa?” Tanya ibuku sambil tersenyum kecil kepadaku. Anak dan ibu itu terdiam untuk beberapa saat, suasana pun menjadi hening. Sesekali mereka hanya beradu pandang penuh tanya. Aku terdiam dan terdiam belum mampu memberi sebuah jawaban yang akan membenarkan pendapat tentang angka 13 itu. Pikirku bergejolak, pandanganku hanya tertuju pada ibuku. Kini ibu adalah segalanya bagiku. Ibuku seorang yang sederhana, dialah orang terhebat dalam hidupku, yang melahirkan, merawat, menjaga, dan membesarkanku hingga tumbuh sehat seperti ini. Ibuku menjadi tulang pungung keluargaku saat ini.
“Bu!” tanyaku singkat sekali. Tatapanku tertuju pada ibuku yang terlihat penasaran. Entah dorongan dari mana tiba-tiba aku menghambur dan merangkul ibu erat sekali. Saat itu aku begitu melankolis, seakan menjadi laki-laki yang sangat cengeng.
“Kamu kenapa? Ceritalah pada Ibu, jagoanku!” Jawab ibuku seraya membelai kepalaku penuh kasih dan sayang. Aku masih belum bisa menjawab tanya itu, aku masih terdiam seribu bahasa. Angin pun seakan berhenti berembus dan bersiap mendengarkan jawabanku tentang sebuah tanya yang ibu lontarkan.
“Memangnya kamu merasakan kesialan apa?” kembali ibu mengulang pertanyaan yang sama. Pertanyaan itu kembali membuat emosi jiwaku bergejolak sampai ke dasar hati yang paling dalam.
“Iya, Bu!” jawabku pendek sambil terisak menahan tangis.
“Apa buktinya kalau angka 13 itu sial bagimu?” tanya ibu sambil menatap ke arahku penuh arti, kemudian lagi-lagi ibu membelai kepalaku penuh kasih. Aku merasakan kenyaman itu lagi dan lagi. Hatiku merasa tenang dibuatnya.
“Apakah Ibu tidak akan marah jika aku jujur, Bu?” tanyaku seraya menatap wajah ibuku yang selalu berada di sisiku di saat aku dalam masalah. Terlihat ada gurat kelelahan di wajahnya karena harus banting tulang mencari nafkah untuk keluarga. Sementara aku belum bisa apa-apa karena aku masih duduk di bangku SMP. Itu semua jadi tanggung jawab ibu karena ayahku telah meninggal beberapa waktu yang lalu disebabkan penyakitnya yang tak kunjung sembuh.
Orangtuaku selalu bercerita padaku agar suatu hari aku harus menjadi orang yang lebih bermanfaat bagi orang banyak dan tidak egois memikirkan diriku sendiri. Ayahkulah yang selalu memotivasiku agar selalu maju dan terus berjuang demi mencapai semua yang aku cita-citakan sejak aku masih kecil dahulu. Cita-citaku adalah ingin punya banyak uang dan punya rumah mewah yang bertakhta emas dan permata. Hal itu menjadi sebuah kenangan terindah bagiku.