APA yang aku alami itu sungguh di luar akal sehat. Hari-hari yang aku tempuh sebelumnya terasa berat, dan bahkan enggan melakukan apa-apa. Rupanya si zalim itu, selain ingin menghabisi nyawaku, terlebih dahulu ingin melumpuhkan segala keinginanku. Baik keinginan mencari nafkah untuk keluarga, maupun keinginan jalan-jalan ke luar rumah.
“Sungguh bajingan apa yang dia perbuat selama ini. Apa yang akan dia jawab bila kelak Allah swt memintai pertanggungjawaban kepada dia, si zalim?” batinku bertanya.
Ah ya, aku ingat. Pada malam itu, ada seekor ular hitam yang masuk halaman rumahku. Untungnya ular itu ditemukan oleh si meong berbulu hitam, yang aku besarkan sejak kecil. Aku menyaksikan perkelahian antara ular hitam dan si meong. Akhirnya si meong menang, dan tubuh ular itu sebagian dimakannya. Sisanya aku buang ke Sungai Nagawiru.
Aneh, dari mana ular itu datang? Dari Sungai Nagawiru? Semua pinggir sungai itu berdinding batu yang licin oleh semen. Jadi sangat mustahil ular itu bisa manjat, kecuali jika ada pohonan. Sejak itu aku semakin menyayangi Si Hitam, meong yang telah menyelamatkan jiwa dan ragaku dari gigitan ular hitam.
Sayangnya, si meong mati sudah. Di tubuhnya banyak luka, semacam digebug oleh benda tajam dan runcing. Mayat Si Meong ditemukan oleh penjaga sekolah yang dekat rumahku, dan dia bilang sudah dikuburkan di halaman belakang sekolah tersebut.
***
PADA malam yang lain, aku mimpi bertemu dengan orang yang menzalimi diriku dan keluargaku selama ini. Wajahnya kusut, tubuh dan pakaiannya kumal. Tangisnya mengguncang dinding kota. Dan ia berlalu begitu saja dari hadapanku. Aku tidak tahu, apakah ia masih hidup ataukah sudah mati. Bila ia sudah mati, apakah ia sekarat dengan kesakitan yang sangat? Aku tidak tahu.
Seperti biasa pada tengah malam seperti ini—aku—selalu bangun, untuk membaca ulang apa yang aku tulis. Tentu saja semua itu aku lakukan setelah mendirikan salat dua rakaat dan berdoa. Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara memanggilku dari balik pintu. Ketika aku buka, tak ada siapa-siapa di luar sana. Suara itu tidak aku kenal. Apakah ini suara teluh yang lain?
Jika memang aku harus mati oleh teluh oleh kezalimannya, aku yakin tempatku kelak bukan di neraka sana. Tapi di surga. Dosa-dosaku kelak akan dilahap dengan rakusnya oleh si zalim. Sesaat kemudian, tak terasa, waktu bergulir dengan amat cepatnya. Tiba-tiba saja aku mendengar suara orang melantunkan tahrim dari sebuah surau yang jauh.