Rahasia Kayu Bakar

Cerpen Dodi Goyon (Pontianak Post, 03 Februari 2019)

Rahasia Kayu Bakar ilustrasi Pontianak Post (1)
Rahasia Kayu Bakar ilustrasi Pontianak Post

Baiklah akan kuceritakan kisah tentang kayu bakar. Bagaimana setiap hari libur selalu mencari pergi ke kebun. Kemudian mendapat sindiran yang sinis dari Wak Mat, tukang las berbaju longgar itu.

Menggerutu juga aku. Di zaman yang serba canggih ini masih mencari kayu bakar. Mencela burung pipit melihatku menebang pohon karet yang banyak dahannya namun siap mati karena tak disadap lagi. Belum lagi nyamuk–nyamuk yang silih berganti membisik dengan gosip baru yang dibawanya. Kumbang hitam mungil itu juga protes, sarang yang belum diselesaikannya ikut hancur saat aku tebang pohon karet untuk kayu bakar.

Merintih ulat kayu ketika mata gergaji mencabik kulit lembutnya. Kubelah saja tanpa permisi. Satu dua semut hitam menatap garang. Mereka binatang-binatang itu seakan mendukung perasaanku.

Bukankah sekarang ada kompor gas. Tinggal berlari di toko kampung akan kudapati juga. Tak perlu pergi ke hutan.

“Amak tak butuh itu, Nak, apinya kurang hangat. Kalau gas itu panas. Amak tak suka panas, kayu bakar bagus.”

Entahlah apa yang Amak pikirkan. Mengapa beliau tak mau pakai kompor gas. Memasak menggunakan kayu bakar itu tak gampang. Asap mengepul dan apinya suka mati bila kayu kurang kering. Tapi Amak tetap gigih tak mau berpaling dari kayu bakar.

***

“Mana kerjaan kau jang, belilah Amak kau tu kompor gas. Saban minggu kulihat kau ambil kayu bakar. Mau kembali ke zaman batu apa kau jang?”

Wak Mat. Tukang las yang selalu berbaju longgar itu. Sangat longgar, selonggar mulutnya yang selalu usil dengan keadaan orang lain.

“Amak tak mau Wak,” jawabku singkat.

“Bukan Amak tak mau, kau yang kedekut tak mau belikan kompor gas untuk Amak kau. Kau rela kulang-kalik membawa kayu bakar dan tak mau keluar uang sepeser pun,” lanjut Wak Mat mulai sok tahu.

“Wak, aku anak Wak atau anak Amak aku? Yang bawa kayu aku, yang belah aku. Apahal Wak yang sibuk.”

“Jangan marah jang, Wak kan nak beri saran jak.”

“Saran? Aku ikut saran Amakku. Bukan Wak Mat!”

Bagaimana tidak dongkol bertemu dengan manusia seperti Wak Mat. Rupa boleh lelaki tapi mulut lebih-lebih wanita. Amak saja tak pernah bilang aku kedekut.

Omongan orang memang tak bisa dihindar. Tak bisa ditebak. Suka bikin sakit hati. Tapi aku sampai sekarang masih sabar, cuma masih penasaran. Kenapa Amak tak mau pakai kompor gas.

Memang ada betulnya juga saran Wak Mat. Aku sudah ada kerjaan. Cukuplah untuk beli kompor gas, tapi bukan aku yang kedekut seperti sangkaan lelaki bermulut longgar itu.

Amak tak mau. Beliau lebih suka aku ke hutan, membelah kayu dan memanggulnya membawa ke rumah. Lebih hangat kata Amak, tak seperti kompor gas yang panas.

Paham? Sekali lagi aku tak paham Amak.

Menggunakan perapian di dapur bukanlah perkara gampang. Aku perhatikan Amak kalau di dapur. Berpeluh, kadang kalau kayu belum sempurna kering akan banyak asap yang mengepul. Amak mengerjap-ngerjapkan matanya. Kasian aku, bukannya aku tak peduli.

Tekad kuberubah. Akan kupaksakan beli kompor gas untuk Amak. Berharap akan memudahkan pekerjaan beliau di dapur nanti. Tak perlu juga aku mencari kayu bakar lagi. Bisa juga aku menjawab sangkaan Wak Mat selama ini.

Kumpul dulu uangnya. Bulan depan aku beli.

***

Amak belum pulang dari kebun.

Hari minggu sekarang, jadwal mencari kayu bakar. Amak akan menungguku di kebun pastinya. Tapi aku akan ke pasar hari ini. Mencari kayu bakar yang lain.

Anganku mulai menghayal, bagaimana nantinya Amak senang bukan kepalang. Melihat kompor gas terpampang di samping perapian. Tak peduli tungku akan protes, iri atau kecewa nantinya. Aku hanya ingin Amak senang. Itu saja.

***

“Nak, kenapa kau tak ke kebun, kau sakit?” tanya Amak.

“Aku ke pasar Mak, nyari kayu bakar,” jawabku senang.

“Ke pasar nyari kayu bakar?” heran Amak.

Tak kujawab, aku bawa Amak ke dapur. Senang pasti beliau ketika melihat kompor gas harapku.

“Aku belikan Amak kompor gas, tak perlu aku ke kebun tebang pohon karet lagi. Amak suka?”

Amak melihatku tajam. Tak pernah aku melihat tatapan beliau seperti ini sebelumnya. Lalu dengan tenangnya dia berujar.

“Amak kan sudah bilang kalau tak mau dari dulu.”

“Tapi Mak, kalau dengan ini mudah Amak memasak. Tinggal klik hidup. Tak ada asap juga Mak,” belaku lagi.

Sayang juga kalau tak dipakai kelak. Percuma aku menabung beberapa bulan ini untuk membeli kompor gas, kalau kenyataannya Amak tak mau.

“Sudahlah nak, Amak istirahat dulu. Barang itu kau simpan aja dulu di kamar kau, jangan dekat tungku. Amak tak suka,” lanjut Amak pelan namun tegas.

Aku terduduk lemas. Usaha yang tak sesuai harapan.

Aneh Amak, aku sebagai anaknya tak tahu mengapa beliau sampai tak mau. Seandainya Wak Mat tahu, dia juga akan heran, lebih longgar herannya dariku bahkan.

Apakah penilaian Amak aku ini salah. Tak patuh mungkin. Atau karena tadi tidak datang mengambil kayu bakar di kebun? Bingung aku.

Salahkah anak yang berusaha ingin sekali membahagiakan orang tuanya. Marahkah tungku bila aku menggantikan posisinya dengan kompor gas yang lebih praktis. Malah langit-langit dapur saja seakan mendukungku, tak tahan harus setiap saat bersua dengan asap. Lihatlah sekarang hitam bagai mendung di dalam rumah.

Hitam dan gelap perasaanku sekarang. Masih bingung karena Amak yang tak jelas. Ingin dikembalikan kompor gas itu tak mungkin lagi. Pasti orang toko tak mau. Belum lagi kalau sampai Wak Mat tahu aku mengembalikannya, habis aku disemprot mulut lasnya itu.

Tak apalah simpan saja. Siapa tahu Amak nanti mau.

***

Minggu ini aku masih bergelut dengan yang namanya kayu bakar. Menebangnya, memotong terus membelah. Tapi tak semangat aku kali ini. Burung pipit tak berkicau lagi, gosip-gosip nyamuk kurang hangat di telingaku. Kumbang hitam yang mungil itu pun entah kemana membuat sarangnya. Tatapan semut hitam juga biasa saja, hanya sesekali bersalaman dengan teman sejawatnya. Hanya ulat kayu yang selalu teriak keras memaki mata gergaji.

Gesekan demi gesekan gergaji bergerak. Hentakan kapak semakin lemah. Aku tak semangat rasanya. Tak banyak tumpukan belahan kayu yang kuhasilkan. Aku masih kecewa.

Amak sepertinya tahu keadaanku. Kulihat sekilas Amak tak fokus mengasah pisau sadap di tangannya. Sekali gesek batu pengasah, sejurus juga matanya melirikku. Bilas air asah lagi, melirik kemudian.

Selesai kayu bakarku. Kuhampiri Amak di pondok kebun.

“Kamu sakit nak, kok lesu?” tanya Amak

“Ndak Mak, hanya malas,” jawabku gampang

Amak mulai tahu sepertinya perasaanku, dan itu juga harapanku. Berharap beliau mau menceritakan mengapa ia tak mau aku membeli kompor gas.

“Malas, kenapa?” tanya Amak lagi. Nampaknya beliau sengaja memancing aku yang bertanya. Tapi aku belum berani, tak enak kalau Amak menatapku seperti tatapan dulu sewaktu tahu aku membeli kompor gas untuknya.

“Malas terus-terusan nyari kayu bakar, Mak,” Aku mulai berani membuka pintu persoalan.

Amak menatapku lagi. Persis tatapan dulu itu. Padahal aku takut dengan tatapan sayu nan tajam itu. Akhirnya beliau tersenyum, membuat matanya yang tadi sempat menakutkanku menjadi mata yang penuh cinta kasih.

Dengan lembut Amak memegang kedua tanganku. Di raihnya kemudian diarahkannya kembali ke wajah lelahku.

“Tangan kamu kasar, Nak?” tanya Amak.

Aku hanya mengangguk tak paham.

Wajah Amak mendekat ke arah badanku. Hidungnya lekat mencium aroma tubuh yang keringatan. Pelan tangannya mengelap sisa–sisa keringat di keningku.

Aku semakin dibuat tak paham maksud Amak. Tapi aku tak berani bertanya.

“Nak engkau tahu kenapa Amak tak mau kompor gas, dan terus menyuruhmu mencari kayu bakar?”

Kali ini aku menggeleng. Mataku masih bersitatap dengan mata Amak yang sayu.

“Amak mau tangan dan keringat kau murni untuk Amak,” lanjut Amak.

Aku masih terdiam. Belum paham maksud Amak. Kali ini tatapanku mulai samar, ada genangan basah di sana. Tak kuasa melihat tatapan Amak yang juga mulai berkaca-kaca.

Kemudian Amak berkata dengan harunya, “Nak, kalau kau ambil kayu bakar, keringat kau untuk Amak.”

“Tapi Mak, aku beli kompor gas juga dengan keringat kerja dan dapat gaji. Bukan aku mencuri Mak,” suaraku serak memberanikan diri menjawab.

Amak tersenyum. Disekanya air mataku yang mengalir di pipi. Tanpa peduli air matanya perlahan mulai menetes.

“Amak paham, Nak, kau kerja bukan mencuri. Niatmu baik. Tapi, uangmu itu hasil bekerja dengan orang lain. Artinya keringatmu belum murni untuk Amak di sana. Amak tak mau berbagi keringat, peluhmu terpakai orang lain saat kau bekerja untuk mereka. Amak juga ingin mendidikmu betapa nilai baktimu lebih Amak sukai daripada uang dan kompor gasmu itu,” lanjut Amak.

Aku peluk Amak dengan erat. Air mata tak henti mengalir haru.

Sekarang aku tahu. Kalau aku membeli kompor gas sama artinya keringatku belum fokus mengabdi untuk Amak. Karena uang gajiku berasal dari keringat yang juga dimanfaatkan tempatku bekerja.

Amak ingin baktiku tak setengah-setengah.

Kesederhanaan tak menuntut harus mudah. Di dalamnya juga terdapat pengorbanan yang sejati. Membeli kompor gas boleh jadi memudahkan Amak dalam memasak, namun tak ada kerelaan di sana. Sedangkan berpeluh basah membelah kayu bakar lebih berarti bagi Amak. Karena lebih mengikat nilai di dalamnya.

Sekarang aku paham. Amak tak suka kompor gas yang panas melelehkan cinta. Tapi kehangatan kayu bakar lebih mempererat kasih sayangnya. (*)

Arsip Cerpen di Indonesia