“Ya. Samakan dirimu seolah-olah seperti Mahapatih Gajah Mada saat mengucapkan Sumpah Palapa!” jawab perempuan itu dengan suara lirih.
“Aku tidak hapal semua isi teks,” lanjut Matohar.
“Katakan saja semua yang kamu ingat. Mereka tidak akan protes! Suaramu jauh lebih penting dibanding isi teks.”
“Begitu ya?”
“Hemmm.”
Empat lelaki kekar tadi segera mengawal Matohar naik ke atas panggung. Begitu sampai di depan pelantang, Matohar langsung mengepalkan tangan. “Merdeka! Merdeka!” teriaknya.
Beberapa orang yang duduk di barisan depan menyambut yel yel itu dengan kata yang sama.
“Saudara-saudara, hari ini aku merasa seperti Mahapatih Gajah Mada saat mengucap Sumpah Palapa. Tahu di mana sumpah itu diucapkan?” Tidak ada yang menjawab. “Di Trowulan Mojokerto. Persisnya di belakang Pendapa Agung kraton Majapahit. Saat itu jagad seperti bergetar. Bumi berguncang. Namun angin berhenti. Daun-daun diam. Matahari pun seolah ingin tahu isi sumpah itu. Ada yang tahu isi Sumpah Palapa?” teriak Matohar.
Kembali orang-orang hanya saling pandang satu dengan yang lain.
“Isinya tidak penting kita ingat. Tetapi sekarang ini, ketika matahari selalu muncul dari timur dan tenggelam di ufuk barat, kita semua harus sadar. Bumi memang bundar. Tidak pernah rembulan muncul dari utara dan tenggelam di selatan. Benar?”
Orang-orang berteriak menyahut, “Benar!”
“Ehh, kamu tahu, ke mana arah pidato itu?” tanya seseorang kepada temannya.
“Mana kutahu. Biar saja dia mau omong apa. Kita di sini menunggu tampilnya penyanyi seksi tadi kok,” jawab yang ditanya.
“Jadi Saudara-saudara, kalian tahu?” Tanya Matohar
“Tidaaaakkkk!” jawab orang-orang itu seperti koor.
Matohar menelan ludah. Sangat pahit rasanya. Ia sendiri mulai bingung, tidak tahu lagi apa yang harus diucapkan.
“Bojo Galak! Bojo Galak!” teriak orang-orang itu tidak sabar.
Jakal, penghujung 2018