Sunyi Bercerita tentang Kesunyian

“Kamu percaya tidak, seseorang yang telah mati akan selalu ada di dekat sesuatu yang dicintainya saat masih hidup?” tanya perempuan itu menerawang.

“Sebagai orang yang agamais, tentu saja tidak. Memangnya kenapa? Kamu dihantui seseorang? Jangan-jangan mantan,” seloroh sang lelaki.

“Entahlah, akhir-akhir ini seperti ada yang berbisik kepadaku untuk terus menyelesaikan novelku yang terbengkalai.”

“Editor.”

Perempuan itu tersenyum kecut.

“Yaa, itu juga. Targetku sebulan lagi.”

“Kamu terlalu banyak baca fiksi. Ayo, kita piknik minggu ini.”

“Tidak, Ray. Ini penting. Solusimu tak membantu,” ujar perempuan itu serius. Mimiknya berubah.

“Iya, maaf. Aku tak bermaksud apa-apa.” Keduanya diam sesaat.

“Novelmu tentang apa, boleh aku jadi orang pertama yang tahu kisah dari calon buku laris tahun ini?”

Perempuan itu kembali tersenyum, “Kisah cinta,” tuturnya singkat. Menatap raut sang lelaki yang menunggu penjelasan, ia melanjutkan, “Tentang pengarang tua yang jatuh cinta pada perempuan muda yang juga seorang penulis. Awalnya hubungan mereka tak lebih dari status murid dan guru. Seorang pembaca dan idolanya. Karena kesamaan latar belakang, mereka jadi sering berhubungan, menghabiskan waktu bersama sampai tumbuh benihbenih cinta di antara keduanya.”

“Siapa nama tokohnya?”

“Arum dan Kelana.”

“Nama yang bagus. Mengapa mereka bisa saling jatuh cinta?”

“Keduanya memiliki sejarah kelam masing-masing. Kelana adalah penulis tua legendaris yang pernah dipenjara belasan tahun oleh rezim despotik atas tuduhan subversif. Sementara Arum perempuan malang korban pemerkosaan brutal sekelompok orang tak dikenal di periode yang chaos, memilih sastra sebagai pelarian dari bisikan-bisikan asing yang kerap menyuruhnya bunuh diri. Kesunyian masing-masing membuat mereka saling mengisi karena empati yang murni tumbuh dari suatu rasa yang pernah sama-sama terluka,” tutur sang perempuan dengan nada bergetar.

Arsip Cerpen di Indonesia