Lelaki itu mematung. Dadanya sesak mendengarkan cerita yang sudah tak asing di telinganya. Cerita masa lalu sang kekasih yang telah terkubur hendak ditulis kembali. Ia memeluk erat perempuan itu seakan esok tak akan lagi menyapa.
Sementara itu, di suatu sudut yang lain, di ruang dan waktu yang berbeda, seorang lelaki tua terlihat selalu tak jauh dari mesin tik kesayangan, bermerek Brother, menanti sebuah kisah yang belum rampung untuk dituntaskan. Kisah yang bercerita tentang dirinya.
Ia ingin sekali menyentuh tombol-tombol itu, deret rangkaian huruf yang pernah membuatnya merasa hidup. Sejak pikirannya mandek seiring tubuh yang menua, kesunyian terasa begitu nyata—tak teraba oleh bahasa puisi apa pun, digambarkan dengan prosa paling realis sekalipun.
Ia rindu bernostalgia dengan kenangan yang tak pernah ada. (*)
D. Hardi. Menulis cerpen, puisi, dan resensi yang sudah tersebar di media cetak dan digital. Karya terbarunya adalah antologi puisi berjudul “Sesuatu yang Tak Pergi di Malam Hari”.