Kali Pertama Aku Menangis

Mataku tersita oleh papan pipih yang menggapit secarik kertas. Aku mengamati dengan saksama. Nama, usia, dan tanggal lahir tercetak di papan itu, sama persis dengan yang tertulis di daun gugur yang beberapa menit lalu kupungut. Aku merogoh saku. Jam dalam genggamanku menunjukkan pukul 23.55. Kurang dari lima menit lagi.

“Sedikit lagi, Bu,” ucap seorang perempuan.

Aku melihat dia beberapa kali memberikan arahan. Dia sebegitu bersemangat. Juga cermat. Dia bak pemandu musik dalam sebuah orkestra. Dia tahu bagaimana membawa musik dalam irama pelan atau tempo kencang. Terkadang dia menyingkap sedikit kain yang menutupi kedua kaki perempuan yang terbaring di ranjang. Lalu melongokkan kepala ke dalam, ke balik kain itu, seperti sedang memastikan sesuatu.

Perlahan aku mendekati mereka. Aku berdiri di sebelah kiri ranjang. Perempuan yang terbaring itu masih terus berteriak lantang. Berkaliulang dia menarik napas panjang, lalu mengembuskan disertai jeritan. Peluh memandikan wajahnya. Tampak mengilat tertempa cahaya. Tiba-tiba perempuan itu menoleh kepadaku. Bola matanya menghunjam mataku. Aku tersentak. Apakah dia melihatku?

Kedua pasang mata kami beradu. Seolah waktu membeku. Jarum jam baru saja bergeser dari pukul 23.59 menuju pukul dua belas tepat tengah malam. Dari pancaran sepasang mata perempuan itu aku menangkap kepiluan mendalam. Sepasang matanya seolah mengiba, meminta dikasihani.

“Tunggulah sebentar lagi. Aku mohon.”

Entah kenapa aku merasakan kenyerian teramat sangat. Tubuhku seperti tersayat sesuatu yang tak terlihat. Kali pertama keanehan macam ini terjadi. Sebelumnya, aku tak pernah sedikit pun merasa canggung. Aku selalu terbiasa dengan berbagai macam situasi, terkeculi malam ini. Dan, entah, aku sedemikian kasihan bila harus segera merenggut sesuatu yang berharga, yang mungkin sebentar lagi dia rasakan. Barangkali sesuatu itu telah lama dia nantikan, dia harapkan, dan dia idam-idamkan.

Aku mengangguk pelan. Aku menangkap kelegaan keluar bersama embusan napasnya. Tak terasa air mengalir perlahan dari pelupuk mataku. Lalu menderas, membasahi pipiku. Aku segera menyeka air dari pelupuk mata dengan telunjuk jariku agar tak banyak lagi yang tumpah. Apakah aku sedang menangis? Apakah aku sedang bersedih?

Suara tangis pecah di ruangan. Tangis itu seperti penawar rasa sakit perempuan yang terkulai lemas di atas ranjang. Napasnya sedikit demi sedikit kembali beraturan. Sejak tadi aku hanya mematung. Kedua mataku tak henti-henti mengalirkan air mata.

Arsip Cerpen di Indonesia