“Selamat! Ibu melahirkan bayi laki-laki,” kata perempuan yang membantu melahirkan seraya menyerahkan bayi itu ke pelukan perempuan di atas ranjang.
Samar-samar aku mendengar derap kaki mendekat. Langkah itu seperti bersicepat dengan degup jantungya. Lelaki datang dengan wajah semringah. Dia menghambur mendekati perempuan di atas ranjang. Dia membelai rambut perempuan itu sepenuh kasih.
“Selamat, Sayang. Kau resmi jadi ibu,” bisik lirih lelaki itu. Lalu, perlahan dia mengumandangkan azan ke telinga kanan sang bayi.
Aku menunduk, mendengarkan dengan khusyuk. Perempuan itu mencium kening bayi, lalu memeluk erat.
Setelah selesai, aku kembali mengamati jam yang kugenggam. Waktu menunjukkan pukul 00.05. Ini telah melewati batas ketentuan. Aku telah melakukan satu kesalahan. Tak pernah sekali pun aku melanggar ketetapan yang telah digariskan. Ah, maafkanlah aku.
Aku merapatkan diri lebih dekat pada perempuan itu. Sekilas aku menangkap sebaris senyum terlukis di belah bibirnya. Aku membalas dengan senyuman pula. Perlahan aku menangkupkan kedua kelopak mata. Aku membayangkan sedang menarik seutas benang yang rantas dalam gumpalan tepung. Aku menarik dengan segenap kehati-hatian. Aku berharap tak ada yang tertinggal atau benang itu terputus.
Setelah membuka mata, aku melihat seberkas cahaya keluar dari tubuh perempuan itu. Cahaya itu menjelma menjadi kupu-kupu dengan kepakan sayap begitu menyilaukan. Dia terbang mengitari aku. Aku mengangkat telunjuk jari, lalu kupu-kupu itu hinggap di atasnya.
“Terima kasih telah memberiku sedikit waktu untuk mencium dan memeluk bayiku.”
Kupu-kupu itu kembali terbang. Lalu merupa menjadi serpihan cahaya seperti kunangkunang. Perlahan memudar, lalu hilang. Aku bergegas meninggalkan ruangan, yang menyisakan tangis kehilangan. (28)
Dicky Qulyubi Aji, kelahiran Jepara, mahasiswa Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.